Home » BERITA » Ruang Ekspresi Guru (Page 2)

Category Archives: Ruang Ekspresi Guru

Archives

Categories

Makin Bertambah dan Makin Berat

Oleh: Alphian AbuFarisArkhan

Berdiri di depan kelas memandangi hamparan luas pegunungan yang tak lagi hijau. Gedung-gedung kokoh yang berdiri kekar menjulang ke angkasa. Sesaat mata tertuju dan terpana pada deretan pepohonan nan asri di taman hijau terawat ini. Pohon Pinang, itulah namanya. Kuperhatikan rimbun dan asrinya lokasi Seameo-Recsam ini karena banyaknya pohon Pinang yang di tanam.

Baru kusadari bahwa bendera Propinsi Penang ini yang berwarna kuning di tengahnya terdapat 1 pohon Pinang. Mungkin itulah sebabnya pohon Pinang ini sangat banyak kita jumpai ketika berada di pulau Penang.

Kumulai pagiku dengan mendoakanmu disana, semoga kau tetap bahagia sehat dan tetap dalam lindungannya.

Masih saja kisah Mall Praktek cukur itu menjadi pembicaraan pagi ini. Ruang sarapan heboh dengan kehadiran Mas Anang dan Mas Praja. Habis-habisan mereka jadi bahan tertawaan.

Benar saja, potongan rambutnya sangat lucu dan aneh.

“Untung saja, segera kuhentikan tukang cukur itu. Jika tidak maka habis sudah rambutku dicukurnya” kata mas Anang.

“Waduh, sampai nangis aku tertawa melihat ekspresi mas Anang sepanjang jalan selepas pulang dari tempat cukur, wajahnya penuh penyesalan banget”, mas Praja menambahkan bumbu.

Asyik menertawakan rekannya, tiba-tiba Bu Masrita mengambil kamera handphone lalu mengambil gambar bagian belakang kepala mas Praja. Setelah diperlihatkan gambar itu, wajahnya berubah auranya.

Rupanya dia hanya tahu tampilan rambut depannya saja. Tampilan belakang yang model runcing tak seimbang itu ternyata tak di ketahui,…. Walah…. Parah… pecah suasana sarapan pagi ini dengan gelak tawa kami semua.

 “Nasib-nasib…. Sudah mahal, gak ada cermin untuk lihat belakang, main hantam saja tanpa diberi kesempatan menjelaskan model”, kata Mas Praja sambil menenangkan diri.

Masih terpaku melihat pemandangan asri itu, kulihat dari pintu utama Dr. Warabhorn Preechaphorn masuk kelas. Kutinggalkan segala lamunanku bergegas masuk menyiapkan diri untuk kuliah hari ini.

Materi yang akan dibawakan Dr. Wara pagi ini adalah Problem Based Learning the 4 Core Areas. Diawali dengan menanyakan kabar kami semua, sampai entah awalnya dari mana hingga kisah cukur rambut itu kembali terungkit. Langsung saja kelas jadi riuh lagi. Bahkan Dr. Wara sendiri sampai tak dapat menahan tawa karena merasa sangat lucu.


Dokumentasi: Photo Mrs. Wara menjelaskan materi Problem Based Learning the 4 Core Areas

Ok… sudah sekarang kita masuk materi. Soal cukur itu, biar jadi pengalamanmu selama di sini, kata Dr. Wara sambil menyiapkan bahan tayang.

Mulailah beliau masuk materi dengan memberikan beberapa kasus yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Masalah itu beraneka ragam tingkatannya. Ada masalah yang tak begitu penting sehingga tak butuh sosuli secepatnya, tetapi ada masalah yang tak bisa menunggu, harus segera dicari solusinya.

Dalam mengajar di dalam kelas, guru harus memulai pembelajaran memancing siswa dengan beberapa masalah. Masalah ini yang akan dibahas sehingga siswa mampu menemukan solusi. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan pendamping. Biarkan mereka belajar dan memainkan imaginasinya. Tak perlu guru terlalu mendampingi mereka, apalagi sampai memberi tahu jawabannya sementara mereka belum maksimal dalam menemukan solusinya.

Penerapan Problem Based Learning ini sangat efektive untuk anak sekolah dasar. Apalagi jika dipadukan dengan STEM maka sebenarnya kita sedang membentuk ilmuwan-ilmuwan baru di masa mendatang. Bukan saatnya lagi pembelajaran itu sifatnya teoretis. Guru masuk kelas menyampaikan ke siswanya, nak buka bukunya halaman sekian lalu kerjakan nomor satu sampai sekian.

Pembelajaran seperti ini memang sangat mudah dan tidak merepotkan. Gampang saja guru tinggal menerangkan caranya dan siswa disuruh mengerjakan soalnya. Jika yang kita inginkan agar anak kita hanya sekedar tahu saja, maka cara ini sudah cocok. Tetapi jika kita mengharapkan siswa kita tahu, dan menguasai ditambah lagi mereka mampu mengembangkan dan mereka menjadi ahli maka paradigma mengajar guru seperti itu harus dirubah.

Tak banyak berteori, Dr. Wara menunjukkan kami Gambar sebuah Dome (Qubah). Beliau menyuruh kami mengamati strukturnya dan menyuruh kami membuat Prototypenya. Beliau sudah meyiapkan bahan-bahannya tetapi tidak merincikan apa saja yang akan kami butuhkan. Bahan yang disiapkan oleh Dr. Wara juga sangat sederhana. Ada Pipet Plastik, Tusuk Sate, Stick Sumpit, Lem, Gunting, Cutter, Kertas dan Gardus Bekas, Mistar, Selotip, dan lain-lain. Tugas kami adalah mencari tahu sendiri bahannya dan mendesain tanpa ada langkah-langkah pengerjaan.

Dokumentasi: Photo Proses Pembuatan Prototype Dome (Kubah)

 Setiap kelompok mulai berkolaborasi dan berkreasi. Berbagai ide disatukan sehingga menghasilkan model Qubah yang bentuk dan modelnya beraneka macam. Ada yang membuat dalam bentuk menara, hexagon, Qubah Masjid, dan ada yang seperti rumah Teletabis.

Setelah semua karya selesai, maka langkah selanjutnya adalah pameran karya. Setiap kelompok secara bergantian maju untuk menceritakan apa yang telah dibuat. Setiap orang wajib menyampaikan apa kaitannya dengan Problem Based Learning dan apa kaitannya dengan STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics). Selain itu, hal yang harus disampaikan adalah ide dasar pembuatan desain, kelebihannya, dan apakah itu kuat terhadap guncangan.

Seluruh kelompok tampil dan saling mendokumentasikan moment. Pelajaran yang sangat bermakna karena kami senang dapat pengalaman langsung dalam belajar. Jika guru saja senang, maka tentu siswa akan lebih senang.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190319-WA0046.jpg
Dokumentasi: Photo Proses Menjelaskan Hasil Karya kepada Peserta lain

Materi selanjutnya adalah Observation in Mathematics Learning in the STEM Environment yang dibawakan oleh Mr. Gan Tech Hock. Dalam sesi ini kami diarahkan untuk membuat desain observasi pembelajaran. Saat praktek mengajar di sekolah nanti tugas kami adalah ada yang mengajar dan ada yang bertindak sebagai observer.

Beliau menyampaikan bahwa, observer dalam dunia pendidikan bukan sebagai hakim di pengadilan. Yang kadang bertindak sebagai observer dalam dunia pendidikan adalah kepala sekolah dan pengawas. Tugas observer ketika supervisi adalah memberi diskusi dalam bentuk bimibingan kepada gurunya. Bukan datang mencari kesalahan dan dihakimi. Poin penting yang disampaikan oleh Mr. Gan adalah Supervisor itu bukan hanya sekadar datang menagih tetapi juga harus menjalankan tugasnya sebagai pembimbing.

Dokumentasi: Photo Proses Pembelajaran Mr. Gan Menjelaskan Observation in Mathematics Learning in the STEM Environment kepada Peserta.

Seorang Supervisor harus mampu melakukan kegiatan pembimbingan kepada guru binaannya, jika telah melakukan hal itu maka langkah selanjutnya adalah memastikan program itu berjalan. Caranya adalah melalui Supervisi. Jika ada Supervisor tiba-tiba datang melakukan Supervisi tetapi dia tidak pernah melakukan pembimbingan maka yang terjadi adalah mencari masalah, atur damai, atau guru menjadi tertekan, pura-pura sakit, atau bahkan sakit beneran.

Jika semua telah berjalan sesuai program, dibina, disupervisi, dan ternyata masih didapatkan masalah, maka guru tak boleh dimarahi. Guru diajak diskusi dengan baik sehingga terbuka wawasannya untuk memperbaiki.

Iya, kurang lebih seperti itulah diskusi yang berkembang. Pikirku dalam hati, jika hal ini terlaksana maka akan sangat ideal lah pendidikan kita di Indonesia. Memang sekali lagi butuh komitmen jika kita ingin benar-benar baik.

Di akhir sesi Mr. Gan membrikan sebuah Video Inspirasi dalam pembelajaran. Video tersebut dari sebuah sekolah yang ada di Jepang. Sungguh luar biasa proses pembelajarannya. Betapa tidak gurunya seorang laki-laki masih muda dan begitu fasih dalam berbahasa Inggris. Pembelajarannya 100% berbahasa Inggris. Rupanya siswanya juga semua sangat fasih berbahasa Inggris.

Ya Allah… selama film itu berjalan… pikirku… sungguh jauh aku jika dibandingkan dengan guru tersebut. Sepanjang jalan pulang menyusuri koridor kampus menuju asrama video itu terus membayangi pikiranku.

Pikirku, memang sedikit tak rasional…. Andai semua guru di Indonesia seperti itu…. Sangat semangat dan begitu disenangi oleh siswanya.

Sampai dikamar asrama, badan nampak lelah tapi belum bisa istirahat karena cucian yang telah kering menunggu untuk dirapikan. Menyisingkan lengan baju satu persatu kusetrika dan kulipat baju itu.

Belum selesai, kuperhatikan Handphoneku berbuyi. Rupanya siswaku menyapa. Rupanya Amel dan Raina. Hmmm…..

“Assalamualaikum, Pak….”, Kata Raina.

“Walaikum salam, nak…”, jawabku.

“Pak Masih, di Malaysiaki, kangenka Pak,… Lama sekaliki bela Perginya”, kata anakku yang memang kadang bermanja padaku di sekolah.

“Mohon maaf, jika mengganggu, semoga bapak sehat dan segera kembali bersama kami. Mohon doakan siswata Zahra, Aulia dan Dhina yang akan mengikuti Lomba Bercerita. Sudah dulu yah pak guru Kesayanganku…. Bye….”Katanya dengan penuh ekspresi.

Tak mampu menahan rasa, begitu besar memang rasa rindu ini untuk mereka.

Yah sudahlah, makin bertambahlah rasa rindu ini.

Doa terbaik menyertai kalian anakku. Doakan pak Gurumu ini tetap dapat memberikan yang terbaik dan menjadi Inspirator bagi kalian dalam meraih sukses dalam hidup.

International House SEAMEO-RECSAM, Penang-Malaysia

19 Maret 2019

Geleng-Geleng, Angguk-Angguk

Oleh: Alphian AbuFarisArkhan

Azan magrib menggema di semesta raya tat kala kulihat gerombolan burung terbang dengan barisan rapi menuju pulang. Langit soremu kian merona, kian meredup dan akhirnya pergi.

Masih jelas canda tawamu menemani sepiku meski kau tak bersamaku. Kau seolah penawar dan pemberi semangat dikala hati dan ragaku kian merapuh. Ya Allah… doaku kepadamu di atas sajadahku, dekatkanlah hati ini meski aku jauh dari dekapannya.

Ramai nian kudengarkan sayup dari bilik sepiku. Saudara baruku saling menyapa nan menghibur. Begitu banyak luka yang tersembunyi berganti senyuman karena keceriaan kurasakan dari mereka.

Ruang bisu yang menjadi media bertukar cerita, kuperhatikan mulai ramai. Kisah lucu duo Cikgu SD dari Jogaja ini menjadi trending topic sore menjelang petang. Harapan tak sesuai kenyataan. Begitulah kiranya ketika miskomunikasi itu terjadi.

“Teman-teman, coba liat potongan rambut kami”, kata mas Anang dan mas Praja di grup WA.

“Wah, kok jadi lucu mukanya, tak ada bedanya setelah cukur rambut, malah gantengnya jadi hilang. Buang-buang duit aja” kata bu Masrita (Guru SMP dari Kab. Luwu Sulsel)

“Mas Anang dan Mas Praja Not Handsome lagi”, sahut Bu There (Guru SD dari NTT) menimpali.

“Gara-gara misskomunikasi antara dialek dan isyarat Jogja melawan melayu-india, rambut dihajar tanpa ampun” kata mas Anang seperti penuh penyesalan.

Belum selesai luka itu, eh ada pak Dhani (Guru SD dari Madura) malah membuat puisi “Harapan kadang tak sama” yang isiya sangat menohok penuh sindiran akan tragedi mall praktek tukang cukur hari ini. Yah… apa boleh buat.

Nasi sudah jadi bubur, mas Anang dan Mas Praja harus menerima kenyataan wajahnya tak mirip lagi potongan artis idolanya Ungu maupun Sheila On 7. Yah… lebih mirip-miriplah bintang Film India hahahaha.

“Makanya pak Anang, belajar bahasa India dulu sebelum ke sana, jadi jangan tum herajane, nehi nehi acha acha… ditanya model geleng-geleng artinya itu setuju. Jadi jangan salahkan tukang cukurnya” kata pak Mahrani (Guru SD dari Pontianak) yang sore ini juga minta tolong untuk bantu habiskan jatah sabun mandi dan kopinya yang tiap hari selalu diberikan oleh Cleaning Service kamar padahal sabun mandi yang ada itu satu saja belum habis dipakai. Wal hasil kamar kami jadi tempat berkumpulnya kopi dan sabun mandi.

Hari ini, semua nampak serius. Begitu jelas nampak dari wajah-wajah peserta. Betapa tidak, untuk minggu ini kami sudah mulai menyiapkan Lesson Plann untuk praktek mengajar di sekolah. Mrs. Teh Kim Hong dan Mr. Gan Tech Hock selalu setia mendampingi kami selama di sini. Duo fasilitator ini memang begitu sabar mendampingi. Mereka bagai guru, orang tua maupun saudara bagi kami.

G:\foto-foto di recsam\foto\107NIKON\DSCN1782.JPG
Dokumentasi: Photo Duo Fasilitator Mr. Gan dan Mrs. Teh yang selalu setia memfasilitasi kami selama Pelatihan

Kegiatan hari ini penuh dengan persiapan dan penyamaan persepsi membuat Lesson Plann. Mereka memperkenalkan dua Model Lesson Plann yang dikembangkan di Seameo Recsam ini. Pertama adalah Lesson Plann Malaysia yang biasa disebut Rancangan Pengajaran Harian dan kedua adalah Lesson Plann Jepang. Kedua Lesson Plann ini secara umum sangat berbeda.

Lesson Plann Malaysia terlihat lebih sederhana. Dalam satu Lesson Plann untuk satu hari pembelajaran hanya membutuhkan 1–2 lembar kertas A4. Kenapa demikian? Karena dalam lesson plann ini hanya terdiri dari garis-garis besar kegiatan apa yang akan dilakukan oleh guru. Di awali dengan Judul, Identitas Sekolah, Tanggal dan Waktu, Topic, Learning Objectives, Learning Outcomes, Mathematical Proses, Mathematical Thingking Skills, Mathematical Attitudes & Noble values, Teaching materials/aids/resources, reference, steps/ Conten/ Teaching & Learning Activities/ Remarks, dan di akhiri Reflection.

Sedangkan Lesson Plann untuk Jepang terlihat lebih detail. Isi dari lesson plann Jepang ini meliputi Objektives, Flow Of the Lesson yang meliputi, Steps Learning Activities Teachers: 1) Introduction, 2) Posing the Problem, 3) Anticipated Student Responses, 4) Comparing and Discussing, 5) Expanding the learning, 6) Summing Up. Learning Aktivity Expected Student Ractions, 1) The Problem will be presented and students grasp the task, 2) Independent problem solving, 3) Group Discussion, 4) Whole class discussion, 5) Summarize, dan 6) Consolidate learning through an additional problem.

Kedua jenis lesson plann inilah yang akan kami buat sebagai persiapan praktek lapangan nantinya. Peserta yang telah dibagi dalam beberapa tim saling berkolaborasi untuk membuat perencanaan yang terbaik. Tentu ini merupakan tantangan tersendiri bagi kami. Apalagi kami dituntut membuat lesson plann ini menyesuaikan dengan kondisi sekolah yang ada di Malaysia. Belum lagi lesson plann yang kami buat ini 100% dalam bahasa Inggris. Yah… sudahlah kerja tim tentu semua tantangan akan diselesaikan secara bersama.

Selain membuat lesson plann, Mrs. Teh dan Mr. Gan memberikan kami beberapa materi terkait pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Berbagai permainan matematika yang membantu siswa dalam memahami penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian kami dapatkan. Ternyata sangat mudah dengan cara bermain pola titik-titik.

Mrs. Teh dan Mr. gan telah menyiapkan berbagai kasus matematika dan kami ditugaskan menyelesaikannya dalam bentuk permainan pola. Ada beberapa titik sesuai dengan kasus yang diberikan. Tugas kami adalah membetuk pola yang menunjukkan logika matematikanya.

Wah…, kegiatan ini sangat keren dan menantang. Bukan hanya sekadar mengetahui konsep matematikanya. Kami diajarkan bahwa matematika juga bisa ada unsur seni di dalamnya. Critikal Thingking, Creativity, Communication, dan Colaboration betul-betul nampak dalam kegiatan kami hari ini.

Dari satu kasus yang diberikan berbagai pola hasil imaginasi peserta tercipta. Ada yang membuat pola kupu-kupu, pola rasi bintang, pola Sarang Laba-Laba, Pola Yin dan Yang, dan saya sendiri membuat pola roda gila.

Dokumentasi: Mrs. Teh memfasilitasi peserta belajar Pola Titi dalam operasi hitung

Semua wajib membuat, dan semua wajib mempresentasekan. Pengalaman sangat berharga. Jika ini benar-benar dapat diterapkan maka siswa akan mampu meningkat kemampuan abad 21-nya.

Selain memberikan permainan matematika, Mrs. Teh dan Mr. Gan juga memutarkan salah satu contoh Video Pembelajaran yang dilakukan oleh guru di Sekolah Jepang. Sangat menarik dan sangat Inspiratif. Mulai dari penataan kelas yang memang sangat kondusif untuk pembelajaran. Papan tulis berwarna hijau dipilih agar mata siswa tak mudah lelah. Untuk menulis masih menggunakan masih menggunakan kapur karena lebih aman jika dibanding dengan spidol yang syarat dengan bahan kimia yang mudah terhirup tanpa tersaring oleh rambut hidung. Juga papan tulis yang mengandung unsur logam sehingga berbagai media dapat ditempelkan di papan tulis dengan magnet. Hal ini sangat baik dan mengurangi penggunaan bahan selotip yang kadang malah merusak dan mengotori papan tulis.

Papan tulis juga benar-benar dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Tekhnik menulis di papan tulispun ada. Media ditempelkan di Pojok kiri atas bersama dengan Problem pembelajaran. Materi maupun kegiatan semua harus berada di papan bagian tengah. Sedangan solusi ataupun menyelesaian masalah berada pada bagian bawah. Untuk bagian kiri papan tulis berisi rangkuman pembelajaran. Jadi skema siswa dalam belajar dapat lebih sistematis. Apa yang saya lakukan selama ini, sungguh jauh berbeda. Papan tulis sembarang saja digunakan. Kadang informasi yang tak begitu penting juga ada dipapan tulis. Belum lagi penataan penulisannya kadang membuat siswa bingung alur berpikirnya.

Kegiatan yang cukup memberikan pengalaman berharga. Bersyukur selalu kepada Allah, atas nikmat yang diberikan. Kami jadi banyak belajar. Memang untuk mencapai kondisi ideal itu sangatlah tak mudah. Butuh keseriusan dan butuh dukungan.

Mempelajari mekanisme materinya, sebenarnya sama saja apa yang saya pelajari selama ini. Entah apa yang membedakan sehingga kualitas pendidikan kita masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia tenggara.

Memang bukan saatnya lagi menyalahkan keadaan, tapi berusaha memberikan yang terbaik itu yang harus dilakukan.

Sore telah berlalu, kini malam telah tiba. Sebaskom cucian juga telah menggantung indah di Jemuran. Segala lelah hari ini, menjadi hilang kala kulihat senyum manismu meski hanya lewat kecanggihan technology.

Dunia terus berkembang semakin cepat, sungguh sangat disayangkan jika kita sebagai pendidik justru suka berada pada posisi nyaman. Mencukupkan diri dengan apa yang sudah ada. Seandainya sedikit saja kita membuka mata cakrawala berpikir kita, maka akan kita temui betapa lemah dan kurangnya apa yang kita lakukan selama ini.

Malu pada diri sendiri, malu pada ibu pertiwi, dan malu pada sang pemberi nikmat yang telah memberikan segalanya kepada kita.

Tak, riuh lagi… karena semua telah kembali keaktifitasnya masing-masing. Semoga besok tak ada lagi yang salah mengartikan makna dari geleng-geleng dan angguk-angguk. Tak selamanya geleng itu maknanya tak setuju, juka tak selamanya angguk itu maknannya setuju. Hari ini terbukti gelengan itu justru membuat apa yang diharapkan itu jauh dari kenyataan.

International House SEAMEO-RECSAM, Penang-Malaysia

18 Maret 2019

Focus 1 Titik

Oleh: Alphian AbuFarisArkhan

Kulit nampak kering, memerah dan menghitam. Pagi ini jelas kuperhatikan bahwa suhu Penang memang benar-benar panas. Kemarin saat hendak ke Bukit Bendera Mrs. Cyndi menyampaikan di Bus bahwa kita akan ke lokasi dengan ke tinggian 833 mdPl. Suhu udara di atas beliau gambarkan itu dingin. Sehingga bapak ibu bisa merasakan suasana yang berbeda.

Hmm… saat tiba di atas perasaanku kok nggak ada dinginnya sama sekali. Sama saja dengan suhu Makassar dipagi hari. Jangan dibandingkan dengan suhu di Korea, Jepang atau Belanda yang kadang di bawah 5 derajat celcius bahkan di bawah 0 derajat celcius. Teman-teman yang sedang short course di Korea, Jepang atau Belanda sering memposting itu disosmednya. Untuk daerah Malino saja, sebuah dataran tinggi yang ada di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan saja dinginnya belum sebandinglah.

Rupanya, semalam saat kudekap rindu ini rapat dalam selimutku teman-teman dalam grup WA Short Course sedang ramai. Mulai dari mengirim dokumentasi pusing-pusing kemarin hingga mengungkapkan rasanya masing-masing.

Nuansa melankolis dan romantis entah lah. Jelas dari tiap baris dan bait puisi yang mereka syairkan menunjukkan mereka dalam kulminasi yang tinggi. Rindu itu bagai mesin waktu yang kapan-kapan menjadi senjata pemusnah massal.

Tak terasa, saling berbalas puisi itu dalam semalam jika dikumpulkan bisa menjadi 1 buku antologi puisi. Bahkan Pak Tundung (guru SMP dari Wonosobo) yang kami kenal sebagai sosok yang agamis dan matematis itupun turut mengungkapkan Rindunya dalam syair puisi nan menohok.

Kembali ke cermin saksi bisu ini. Dia memberikan kabar bahwa simpanlah rindu itu. Biarlah dia abadi hingga tiba masa menemukan peraduannya.

Pagi makin menyingsing diiringi kicau burung nan merdu di taman Recsam yang memang masih sangat asri. Kubuka pintu untuk memastikan kau baik-baik saja di belahan bumi yang jauh. Senyumanmu pagi ini memberikan semangat untuk memulai hari dengan penuh ceria. Hingga akhirnya aku tersentak kaget oleh teriakan Bu Ida (Guru SMP dari Serang Banten) menggedor semua pintu kamar. Rupanya dia lagi cari teman untuk Lari pagi dan ngeGym. Sayangnya semua masih weenak dengan selimutnya.

Tempat wajib pagi ini sudah ramai oleh cikgu yang semangat. Meja-meja sudah hampir penuh dalam posisi melingkar dengan nasi goreng dan teh hangat di hadapan masing-masing.

“Wah…. Jenderal rindu baru bangun yah?” bu Jamila (Guru SD dari Gorontalo) menghentakkan lamunanku saat diperjalanan menuju Café Recsam.

“Begadang yah semalam, pasti pengaruh baca puisi yah dalam grup WA” kata ibu-ibu yang lain.

Memang sih semalam saya hanya menjadi pembaca saja. Saya tak membuat puisi. Saya tetap konsisten sibuk dengan diamku. Ada yang bertanya Diam kok sibuk… iya, diam itu berat loh! Bisa menghasilkan emas. Ada yang bilang Diam itu Emas. Tapi sebenarnya ada Diam yang paling sangat aku takuti.

Ya.. itu.. Diam-Diam Mencintaimu… lah itu berat sekali.

Ambil piring dan mengambil nasi goreng, telur dadar dan teh hangat. Kulihat ada satu meja yang hanya ada dua orang disana. Pak Agus (WI yang luar biasa, apa biasa di luar) dan Pak Yusri (Guru SD asal Kab. Kolaka Timur Sultra) sepertinya sedang asyik diskusi sambil makan. Di meja itulah aku duduk. Sambil makan dan mendengarkan perbincangan mereka tanpa komentar sama sekali.

Rupanya pak Agus sedang membagi ilmunya tentang filsafat kehidupan. Pak Agus ini memang tokoh yang kukagumi karena setiap apa yang ia sampaikan itu sangat mendalam. Tak cukup dengan satu sudut pandang analisa saja untuk memahami maksud dari apa yang iya ucapkan. Seperti ketika dia bercerita tentang sebuah SPBU di daerah Jogjakarta. Di SPBU itu, strategi marketing untuk menarik pelanggan adalah dengan menyediakan Operator Pengisi BBM itu dengan Wanita yang berpenanmpilan menarik dan cantik-cantik. Ini strategi pasar. Begitu juga guru harus punya strategi agar siswanya senang belajar. Kalau gurunya tidak berpenampilan merarik baik dari segi fashion maupun cara mengajar maka siswanya tak akan senang.

Begitu juga dalam dunia marketing. Yah… seperti itu. Itulah yang terjadi di SPBU itu. Jadi ramai kan para konsumen dilayani oleh pelayan yang menarik dan cantik. Pakaian mereka juga (mohon maaf) memang agak sedikit tidak sopan dalam bahasa kita orang timur. Tapi yah itulah… dalam dunia sekarang apasaja dilakukan asal ada keuntungannya dan rupanya konsumen jadi senang.

Tapi coba, pak Praja (Guru SD dari Jogja) jalan-jalan ke SBPU itu malam-malam, kata pak Agus. Perhatikan baik-baik seluruh pelayan itu semua sudah tidak memakai Bra dan Rok lagi.

“Ha….. loh kok parah yah…”, kata ibu-ibu yang mendengar.

“Dimana SPBUnya itu pak” kata pak Praja. (Mungkin dia mau memastikan).

“Iya, karena malam itu pelayannya sudah laki-laki semua”, kata pak Agus Sambil tertawa…. Hahaha….

Spontan semua tertawa. Ruang makan jadi riuh.

Hadeuh jadi ingat pengalaman kemarin sesaat sebelum berangkat Pusing-Pusing. Di depan kampus kami sedang asyik photo-photo. Saya, pak Suhadak (Ketua kelas kami Guru SMP dari Biak) dan pak Anang (Guru SD Jogjakarta). Kami bertiga sebagai modelnya dan Pak Amiri (Guru SMP dari Kab. Seram Maluku) sebagai Photografernya tiba-tiba melintas mu Lailia (Guru SMP dari Magelang) dan Bu Lababa (WI P4TK Matematika) di depan kami.

Spontan bu Laila berkata “Wah, bu Lababa, lihat tuh Burungnya keren-keren banget” dengan ekspresi gemes gimana gitu.

Kami yang sedang serius bergaya siap photo kaget dan langsung memeriksa resleting celana masing-masing.

Melihat tingkah kami bertiga, kedua Ibu ini tertawa dan segera mengklarifikasi. Bukan burung itu tapi burung yang di belakang Bapak itu ada 2 ekor. Hadeuh… hati-hati kalo ngomong harus jelas agar tak ambigu.

Yah cerita pagi ini di ruang makan makin lucu dan makin panas. Entahlah… seminggu ini memang kami semua terbawa suasana serius. Mungkin karena baru kenal dan saling beradaftasi. Suasana pagi ini begitu berbeda.

“Awalnya, bapak ibu merasa kegiatan ini, lah… lama banget. 21 hari itu lama sekali…. Tapi nanti jika makin dekat berakhir kegiatan nanti mikirnya lah udah mau selesai. Bentar lagi pisah. Akan tambah lagi rasa Rindu itu”, kata Pak Sigit (WI P4TK Matematika).

Jadi benar-benar harus diatur waktunya agar semua berjalan dengan baik. Jangan ada yang stres apalagi sakit. Santai saja ikuti semua prosesnya. Orang serius itu ciri-cirinya suka melucu. Lah orang di P4TK Matematika saja kami tiap hari serius dengan matematika lah Wi nya kocak-kocak semua, kata bu Lababa.

Cerita soal kegiatan, pak Sigit lalu berkisah tentang pengalamannya Diklat di Makassar. Saat itu dia dari Jogja naik pesawat dengan pakai Baju Kaos dan Celana Jeans. Pikirnya nanti tiba di hotel baru ganti baju untuk kegiatan. Kondisinya justru di luar rencana. Saat tiba di Bandara rupanya kopernya tidak ketemu di bagian pengambilan Bagasi. Setelah melapor ke petugas Bandara disampaikan agar sabar nanti mereka akan menghubungi jika Kopernya ketemu.

Sebelum pulang, beliau diminta untuk menyimpan nomor kontak dan diberi tahu mekanisme asuransi barangnya. Jika barangnya tak ketemu maka pihak maskapai akan memberikan konpensasi 200.000 rupiah perhari. Tapi jika hari ke empat barang yang hilang tersebut tak ketemu maka akan diberikan uang tunai 4 juta rupiah sebagai konpensasi atas kesalahan pihak maskapai.

Okelah, beliau ke Hotel naik taksi namun singgah ke Butik dekat Hotel membeli Baju batik untuk pembukaan dan kegiatan. Sebelum membeli beliau mengkonfirmasi ke Istrinya mengeluh bahwa kopernya tercecer dan terpaksa beli baju. Yo… weslah… silahkan beli, kata istrinya.

Setelah tiga hari akhirnya pak Sigit di telepon lagi oleh pihak Maskapai bahwa Kopernya sudah ketemu. Rupanya ada orang yang salah ambil koper. Sudah sempat dibawah ke rumahnya di luar kota Makassar. Baru sempat dikembalikan pada hari ketiga.

Setelah ditelepon pihak maskapai, pak Sigit lalu menelepon lagi istrinya. Menyampaikan bahwa kopernya sudah ketemu dengan nada mengeluh.

“Loh, koper hilang mengeluh, nah ini koper ketemu kok masih ngeluh”, kata istrinya.

“Lah, kenapa kopernya gak ketemu pas hari kelima saja, kan gagal dapat uang 4 Juta rupiah, yah jadinya cuman dapat 4 ratus juta saja” kata pak Sigit.

Hahahaha…. Hahahaha…. Koplak… sambil pukul Jidat… semua tertawa lepas…

Ok sudah dulu yah…. Pak Zasuli sudah memanggil mau diskusi kelompok membuat Lesson Plan…. Tetap Focus 1 Titik… titik itu…. Yah itu Kamu…

International House SEAMEO-RECSAM, Penang-Malaysia

17 Maret 2019

Perang Urat Syaraf

Oleh: Alphian AbuFarisArkhan

Kumulai hariku, kala semua indahnya hasrat bersamamu sirna ditelan nelangsa yang kian meninggi. Tetap berbaring menunggu panggilan itu tiba, entah kenapa sepertinya ada yang hilang.

Kian lama kunanti nada indah nan merdu itu tak kunjung menghiasi bilik samar tanpa cahaya. Kutunggu-tunggu tak datang jua. Hingga akhirnya panggilan semesta itupun memanggil.

Sampai mentari itu benar-benar terbit. Barulah aku tahu bahwa sumber suara merdu yang selalu setia mengusik mimpiku lowbet. Yah… pantaslah. Pagi-pagi kulihat Pak Zasuli baru mau mencharge handphonenya.

“Bergegas… pagi ini, kita ada agenda tour. Pukul 08.00 Bus sudah berangkat. Jadi sebelum pukul 07.45 kita semua harus sudah siap”, kata pak Zazuli.

“Baik pak, saya harus mandi dan merapikan cucianku yang kemarin”, kataku.

Dengan langkah penuh semangat, kusambut perintah itu. Semua persipan Tour telah kusiapkan dengan Jaket kebanggaan kami aku keluar kamar melangkahkan kaki menuju ruang sarapan.

Rupanya masih pagi sekali semua sudah berada di ruang sarapan. Sudah fress dengan pakaian lapangannya.

Yah, maklumlah. Sudah sepekan kami disini dengan kegiatan yang sangat padat. Dapat moment seperti ini menjadi saat yang tepat untuk sekadar meregangkan syaraf. Tak lama dalam ruang sarapan, pak Suhadak ketua kami yang comel itu kembali memberikan ultimatum agar semua mempercepat aktifitasnya. Bus dan pemandu wisata kami telah menunggu.

Semua, telah siap berangkat. Bus yang akan mengantarkan kami Pusing-Pusing (keliling dalam bahasa Malaysia) Pulau Penang telah siap. Perjalanan kami kali ini sepenuhnya di Fasilitasi oleh Seameo-Recsam. Kami tinggal duduk cantik saja mengikuti kemana Bus bersama pemandu wisata membawa kami.

G:\foto-foto di recsam\foto\106NIKON\DSCN1571.JPG
Dokumentasi: Photo Mrs. Cyndi Wong Pemandu Wisata Kami sesaat sebelum berangkat

Semua telah naik di Bus, dan akhirnya si Tayo pun berangkat. Setelah Bus berjalan mulailah sang pemandu wisata memperkenalkan dirinya.

“Perkenalkan, nama Saya Cyndy Wong. Panggil saja Cyndi. Kali ni saye nak memandu perjalanan wisata Cikgu semua. Ade beberapa destinasi yang mesti kita kunjungi. Cikgu semua diharapkan seronok dengan keindahan alam Penang. Di Malaysia ini ada 13 Provinsi. Dan Provinsi yang menduduki peringkat 1 untuk keindahannya adalah Pulau Penang. Jika ada yang menempatkan penang pada urutan 2 maka Provinsi lain tak ada yang berani pada posisi 1”, begitu pembukaan yang iya sampaikan.

G:\foto-foto di recsam\foto\106NIKON\DSCN1574.JPG
Dokumentasi: Photo Mrs. Cyndi Wong Pemandu Wisata Kami

Sepanjang jalan iya terus bercerita dan menghibur kami semua. Rupanya dia juga sering memandu wisatawan Malaysia yang hendak melancong ke Indonesia. Jadi iya banyak tahulah tentang suasana Indonesia termasuk ke Indahan dan kekayaan budayanya.

Tibalah kami pada Destinasi pertama, yaitu Penang Hills. Lokasi wisata ini di sebut dengan Bukit Bendera. Kenapa disebut Bukit Bendera, Ms. Cyndi menceritakan bahwa dulunya Malaysia itu pernah di jajah oleh Inggris. Dipulau Penang ada sebuah tempat tertinggi yaitu 833 MdPL yang dikuasai oleh pemerintah Inggris. Ketika mengusai bukit itu, Inggris menjadikannya sebagai basis pertahanan sekaligus tempat untuk memantau segala aktivitas daratan maupun lautan di Penang. Semua tempat di bukit itu dipasangi bendera Inggris. Disetiap lokasi yang ada tertancap Bendera Inggris maka rakyat pribumi tak boleh masuk. Itulah cikal bakal mengapa dataran tertinggi di Penang itu di sebut Bukit Bendera.

Dokumentasi: Photo saat berada di Destinasi Bukit Bendera Penang Hill

Sebelum masuk, pemandu kami yang rupanya sudah berusia 73 tahun itu bersama panitia Seameo-Recsam menyiapkan segala hal termasuk tiket masuk kami ke dalam lokasi wisata. Wah, salut saya dengan Mrs. Cyndi ini. Umur yang tak muda lagi tetapi masih menjadi pemandu wisata. Hmmmm. Salut deh..

Semua telah memegang tiket, kami kemudian diarahkan ke halte ruang tunggu kereta listrik. Tapi kok, jalan yang kami lalui berbeda dengan jalur penumpang lain yang mengantri. Kami masuk keruangan yang tak ada orang mengantri. Baru kami tahu bahwa panitia membelikan kami tiket wisata eksekutive. Jadinya kami dapat perlakukan khusus melalui jalur cepat. Terima kasih Seameo-Recsam. Service yang sangat luar biasa.

Akhirnya kereta yang kami tunggupun tiba…. Upssss….. bukan kereta malam yah… ini kereta listrik yang berfungsi mengantar wisatawan untuk sampai ke puncak begitupun saat akan pulang. Kereta berhenti, saya bersama bu Laila (Guru SMP Kota Magelang), Pak Dana Sundana (Guru SD dari Kota Batam), Pak Tundung (Guru SMP dari Kota Wonosobo) mengambil kursi bagian belakang dengan Posisi menghadap ke Belakang. Posisi ini otomatis membuat kami memandang ke arah belakang dengan Dinding belakang kereta berupa kaca tebal dan transparan.

Kereta perlahan bergerak, makin lama makin cepat dan semakin cepat,…. Makin menanjak dan makin mengerikan….. wah… duduk di belakang ternyata posisinya sangat mengerikan. Kami menyaksikan bagaimana hamparan Kota Penang perlahan-lahan terbuka ketika kereta itu mulai meninggi. Roller Coaster Raksasa ini membuat kami terkadang histeris ketika kereta berada pada posisi kemiringan seolah kereta ini akan jatuh saja rasanya. Hemmmm…. Tak bisa kubayangkan andai kereta ini terlepas dari rellnya…..

Sekitar 15-20 menit dalam ketegangan kami sampai juga di pos pemberhentian Kereta tepat di Puncak Bukit Bendera. Bergegas turun karena sebentar lagi penumpang yang akan turun ke bawah akan segera naik kereta.

Subhanallah, masyallah… tak henti memuja dan memuji kekuasaan Allah. Saat berada di atas, terlihatlah hamparan kota Penang yang ternyata seluruhnya dikelilingi oleh lautan. Pantas saja, suhu udaranya sangat panas dan kering. Disana sudah ramai sekali dengan pengunjung dari berbagai mancanegara. Wajar saja, hari ini adalah akhir pekan.

Setelah diberi pengarahan sedikit oleh Ms. Cyndi kami kemudian berpencar. Masing-masing membentuk kelompok untuk jalan bersama agar tak ada yang tersesat. Timku kali ini adalah Pak Dana Sundana (Guru SD dari kota Batam, Pak Nurlyanto (Guru SD dari Sintang Kalbar), Pak Hadi (Guru SMP Kab. Barito Kuala Kalsel) dan Ibu Ernawati (Guru SD dari Kab. Purworejo Jateng). Kami berjalan bagai Bintang Film Meteor Garden…. Hahaiii.

Trip kami kali ini adalah menyusuri seluruh puncak Bukit Bendera dengan menggunakan jasa kereta dengan muatan 5 penumpang tambah drivernya yang bertugas sekaligus sebagai pemandu. Sepanjang jalan pemandu tersebut menjelaskan mengenai tempat-tempat yang ada di wilayah kawasan wisata Bukit Bendera. Yah,… cukup Indah. Tapi tetap lebih Indah Negeriku Indonesia. Sepanjang Jalan di kereta itu berulang kali kunyanyikan lagu “Tanah Airku Indonesia… Negeri Elok amat kucinta, Tanah Tumpah darahku yang mulya, yang kupuja spanjang masa… tanah airku aman dan makmur… pulau kelapa yang amat subur… pulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala…,… dst….” Sambil membayangkan betapa kayan dan indahnya negeriku Indonesia.

Sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan tim lain yang juga sedang seru-seruan. Tiap kali berjumpa dengan Spot Photo yang baik semua pasti singgah untuk mengabadikan moment itu lewat rekaman video maupun photo.

Setelah selesai mengelilingi bukit Bendera tersebut, kami lalu berkumpul ke Spot kumpul. Pukul 10.30 kami kembali naik Kereta listrik tersebut untuk menuju ke loket kedatangan. Disana Bus kami telah menunggu. Perjalanan selanjutnya adalah menuju ke Kawasan penjual oleh-oleh khas Penang. Mirip-mirip Jl. Somba Opu kalau di Makassar, atau Biringharjo di Jogjakarta.

Setiba di Lokasi tersebut, ibu-ibu yang sudah nampak beringas segera turun menyerbu kios-kios itu. Adu argmentasi mulai terjadi antara penjual dan pembeli. Mereka tak akan berhenti sebelum barang yang di incar itu turun harga. Kami bapak-bapak hanya mengamati saja. Nanti setelah ibu-ibu berhasil menaklukan sang penjual barulah kami ikut nimbrung membeli. Sekitar 1 jam berbelanja ternyata para turis dadakan ini nampak lemas. Rupanya dah mulai kelaparan pula…

Komandan kami Pak Sigit dan Pak Agus ternyata tahu cara menyenangkan prajuritnya. Sebagai komandan yang baik mereka ternyata telah melakukan misi intelejent untuk menemukan titik Warung yang bisa mengakomodir lidah 26 orang yang sangat fanatik dengan menu Indonesia. Benar, mereka menemukan satu warung Milik orang Indonesia. Disana ada menu masakan padang, gado-gado, bakso, sate, apa lagi yah,… pokoknya banyak.

“Mas pesan, air jeruk hangatnya…”, kata salah satu Ibu.

Loh kok yang diantarin jus entah apa rasanya.

“Kalo begitu saya pesan Jus jeruk”, kata ibu yang satunya lagi.

Yang datang malah air dengan irisan Jeruk di dalam air.

Hmmm…. Dinikmati saja.

Usai makan dan semua kenyang, kami di antar ke Masjid terapung Pulau Penang. Masjidnya bernama Masjid Terapung Tanjong Bunga Pulau Penang. Posisi masjid yang sangat baik, berada tepat di bibir Pantai dengan View belakang masjid lautan dan deretan gedung tinggi hasil reklamasi. Tak lupa kami saling mengabadikan setiap moment perjalanan.

Dokumentasi: Photo saat berada di Masjid Terapung Tanjong Bunga Pulau Penang

Selanjutnya kami di antar ke Pabrik Cokelat. Sebelum masuk kami diantarkan masuk kebagian edukasi. Disana kami dijelaskan bagaimana proses membuat cokelat. Diawali dari perkenalan Buah Cokelat, bijinya sampai proses permentasi dan proses pembuatan cokelat.

Ketika pria keturunan India itu menjelaskan, pikirku melayang jauh. Hmm… buah cokelat yang dia perkenalkan itu banyak lah di kebunku. Saat masih kecil dulu kerjaku adalah memanen buah cokelat di kebun. Buah yang setengah masak kadang ku isap-isap bijinya. Tanyaku dalam hati, apakah ada perkebunan cokelat luas di Malaysia ini. Orang ketika ke Malaysia selalu mencari cokelat sebagai oleh-oleh. Padahal di Indonesia khususnya di daerah Sulawesi terkenal dengan penghasil cokelat. Tapi kok ketika mau makan cokelat batangan yang enak selalu mikirnya ke Malaysia.

Ah sudahlah… perjalanan kami hari ini sudah cukup panjang. Ketika Mrs. Cyndi bertanya apakah kami masih mau melanjutkan ke tempat yang lain. Serentak kami jawab, sudah ke asrama saja. Sebenarnya kami tak capek. Hanya saja kayak-kayaknya orang-orang yang ada dalam Bus ini bukan tipical orang-orang yang suka menghabiskan waktu berjalan-jalan. Kalau hanya sekadar jalan-jalan melihat ke Indahan, daerah tempat tugas kami masing-masing tentu lebih indah.

Saya secara pribadi selama perjalanan hanya sibuk diam saja. Memperhatikan satu persatu keunikan dari teman-temanku. Semua mulai menampilkan keunikannya. Namun dari semua keunikan tersebut bisa saya tarik kesimpulan bahwa semua punya keterampilan saat berperang.

Strategi perang yang dimainkan oleh komandan kami, disambut sigap oleh prajuritnya mematikan semua lini pertahan musuh. Pedagang saja harus rela barangnya ditawar habis-habisan.

Begitu juga setiap lokasi yang menarik selalu dikuasai oleh tim ini untuk berswa photo. Setelah itu mereka akan saling memamerkan keseruan aktifitasnya di media sosial. Strategi perang urat syaraf. Yah… itulah kata yang cocok untuk menggambarkan keseruan mereka. Dimana ada kamera menyala maka disitu mereka akan berkumpul. Perang bukan dalam artian saling berhadap hadapan, tapi sekadar untuk melonggarkan syaraf yang sedikit tegang selama seminggu ini.

International House SEAMEO-RECSAM, Penang-Malaysia

16 Maret 2019

Kaulah Takdirku

Oleh: Alphian AbuFarisArkhan

Denting Alarm itu kembali merenggut mimpiku. Mimpi yang sengaja kusemai sebagai pelipur dikala hasrat tak tersampaikan. Kuperhatikan langit mulai memerah jingga dari celah gorden jendela kamarku. Wake up… biarlah mimpi itu mencari takdirnya sendiri. Hari ini yang pasti kan ku isi dengan gairah sajak rindu yang kau Kicaukan.

Mengingat kejadian kemarin saat kami berusaha untuk tidak telat masuk ruangan. Nampak dari kejauhan teman-teman berkumpul di depan pintu kelas.

“Loh, kok belum pada masuk?” tanyaku.

“Ini ruangannya masih terkunci” kata ketua kelas kami.

Makin lama makin banyak yang datang. Kami semua masih tetap berada di luar kelas sambil bercerita. Sampai kemudian Pak Sigit, beliau adalah WI P4TK Matematika yang dengan setia mendampingi kami sejak Pre Departure di Jakarta, Pelaksanaan Short Course di Penang hingga Insya Allah Post Departure di Jogjakarta berjalan ke arah pintu utama untuk memeriksa apakah juga terkunci. Hmmmm….. walah… ternyata pintu utama sudah dari tadi terbuka. Saling memandang dan menertawakan satu sama lain. Informasi bahwa pintu belum terbuka itulah yang menjadi dalil kami berada di luar kelas.

Pagi ini, kami tidak lagi merasakan hal itu. Dengan sigap seluruh pintu diperiksa. Benar saja, pintu utama kelas memang sudah sejak pagi terbuka. Petugas yang bertanggung jawab terhadap ruangan ini sangat disiplin dan memperhatikan kondisi kelas dalam keadaan tertata rapi.

Perbincangan kami pagi ini sebelum kelas dimulai cukup berat. Sudah beberapa hari di sini peserta telah akrab satu sama lain. Mulai dari bapak-bapak yang masuk kelas dalam keadaan rambutnya basah dikatakan sudah malam Jum’atan. Hingga pak Mahrani Guru SD dari Pontianak ini sejak kemarin terus mencari Pak Bambang sampai saya menuliskan cerita ini pun belum ia temukan.

“Siapa sih Pak Bambang itu? Kok sampai dicari-cari. Perasaan di asrama tak ada nama Bambang” tanyaku kepadanya.

“Itu Pak Alphian, pak Bambang yang di contoh soal matematika kemarin. Kita disuruh menghitung luas tanahnya dengan hitungan yang cukup rumit. Makanya saya mau cari tahu yang mana Pak Bambang itu….!” Katanya sambil tertawa.

Hadeuh…. Baru beberapa hari Jauh dari rumah Bapak-Bapak ini sudah menampilkan keunikannya masing-masing.

Pintu utama kelas pun terbuka. Mr. Gan Tech Hock rupanya yang mengisi kelas kami pagi ini. Kulihat jadwal materinya tentang Essential Elements of a Lesson Plann. Rupanya pagi ini kami akan diajarkan cara membuat perenacaan pembelajaran. Di Indonesia di sebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sedangkan di Malaysia disebut Rancangan Pengajaran Harian. Sebelum membuat Lesson Plan tersebut kami terlebih dahulu diajarkan teorinya.

Metode perkuliahan Mr. Gan hari kali ini berbeda lagi. Sebelum memulai perkuliahan beliau membagikan secarik kertas kecil dengan ukuran 1/8 kertas A4 kepada masing peserta satu lembar. Kami ditugaskan menuliskan nama kedalam kertas tersebut, dilipat kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Setelah semua kertas tersebut terkumpul, Mr. Gan menyampaikan aturan main perkuliahan hari ini. Dalam kegiatan nanti metodenya adalah diskusi. Setiap peserta yang keluar namanya dalam undian maka majib menyampaikan gagasannya. Tak boleh ada yang berbicara kecuali yang namanya keluar dalam undian.

G:\foto-foto di recsam\foto\106NIKON\DSCN1429.JPG
Dokumentasi: Photo Proses Diskusi dalam kelompok di Pandu oleh Mr. Gan menggunakan Undian Nama

Mulailah beliau menjelaskan materinya. Diawali dengan menyampaikan Tujuan dari kegiatan ini (Learning Outcome) Mr. Gan menyampaikan arti pentingnya sebuah Lesson Plan.

“Jika kamu merencanakan dengan baik, masih ada kemugkinan untuk melakukan kegagalan”.

“Jika kamu tidak merencanakan, maka keberhasilanmu tentu masih sangat diragukan”.

“Jika kamu gagal dalam merencanakan, maka sama saja kamu sedang merencanakan sebuah kegagalan”.

G:\foto-foto di recsam\foto\106NIKON\DSCN1494.JPG
Dokumentasi: Photo Proses Diskusi dalam kelompok membuat Main Mapping

Ingat…! Plan itu adanya di pikiran. Dengan pikiran itu sebenarnya sudah cukup bagi guru untuk melaksanakan sebuah pembelajaran. Apa yang ada dalam kertas itu merupakan Dokumen perencanaan. Seluruh ide yang ada di kepala tidak akan mampu tertampung oleh lembaran kertas yang sangat terbatas itu. Terkadang apa yang kita dokumenkan itu akan melenceng dari rencana. Bisa lebih baik atau bahkan bisa sebaliknya. Jika demikian, maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak membuat rencana itu dalam bentuk dokumen. Tujuannya untuk mengikat seluruh ide yang banyak itu agar tak terlepas dan liar kemana-mana saat melakukan pembelajaran.

Ketika kita membuat sebuah Lesson Plan, secara tidak langsung kita sedang melakukan prediksi dan pengambilan keputusan berdasarkan fenomena yang sudah kita tangkap. Baik itu bersumber dari pengalaman kita yang telah menjadi guru selama bertahun-tahun, ataupun dari berbagai sumber ilmu pengetahuan terbaru yang kita dapatkan. Tahapan dalam membuat Lesson Plan ini sangat penting diketahui oleh guru. Tujuannya agar apa yang dibuat itu tidak sia-sia.

Diawali tahap Visualizing, guru telah mampu melakukan prediksi terhadap apa yang akan terjadi dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru sejak awal dapat menentuan model dan media pembelajaran yang tepat untuk mencapai kompetensi yang harus dimiliki siswa setelah proses pembelajaran. Tahap berikutnya adalah Guiding, guru perlu mengenali lebih jauh karakteristik siswanya dengan baik. Dengannya, guru dapat merencanakan berbagai kemungkinan tindakan jika sekiranya hal-hal yang diprediksi maupun yang tidak, terjadi dalam proses pembelajaran.

Cerita tentang Guiding ini, ada teman saat pulang keasrama merasa dikejar Anjing. Mr. Gan tertawa dan bertanya, “Anjing yang mana yang mengejarmu?”. Menggonggong itu adalah karakteristik Anjing. Bukan Anjing namanya jika tak menggonggong. Perlu diperhatikan adalah apakah gonggongan Anjing itu membahayakan atau tidak. Caranya adalah lihat karakteristiknya. Saat Anjing menggongong perhatikan ekornya. Jika ia menggonggong sementara ekornya bergoyang-goyang artinya ia dalam keadaan senang. Jangan lari karena ia pasti akan mengejarmu dikiranya kamu mengajaknnya bermain.

Jika dia menggonggong dan ekornya lurus maka Anjing itu sedang marah. Harus berhati-hati dan jangan lari. Tetap santai saja dan waspada seolah tak melihatnya. Jika kamu lari maka dia akan mengejarmu karena dianggapnya kamu musuhnya. Jika anjing itu menggonggong dalam keadaan tiarap, maka anjing itu sedang mengenali dirimu karena kamu baru dia lihat. Jangan buat dia kaget, karena bisa saja dia kaget lari menjauh atau malah menjadi marah dan menyerangmu. “Kira-kira tipe mana Anjing yang semalam menggonggongmu?” Tanya Mr, Gan.

Wah, aku gak tahu, karena aku keburu mengambil batu dan melempar Anjing itu, dia lari…. kamipun lebih kencang berlari. Hehehehe.

Tahap ketiga menyusun Lesson Plan adalah Managing. Tahapan ini mengharuskan guru melakukan perhitungan yang tepat terkait waktu dan langkah-langkah pembelajarannya. Tujuannya agar seluruh kegiatan terukur dan berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Tahapan keempatnya adalah Decision Making atau tahapan memutuskan apa dan bagaimana cara pelaksanaannya. Tentu ini sangat terkait dengan dokumen yang dibuat dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam tahapan Decision making ini ada tiga aspek yaitu Learner (peserta didik) terkait dengan kompetensi yang akan dicapai; Content (materi) terkait dengan Indikator Pencapaian Kompetensi, dan Context (kondisi) terkait dengan Pendekatan, Model, maupun metode yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.

G:\foto-foto di recsam\foto\105NIKON\DSCN1498.JPG
Dokumentasi: Photo Proses Diskusi dalam kelompok menyamakan persepsi terkait Lesson Plann

Mr. Gan juga menambahkan, pembelajaran yang kita laksanakan itu haurs Enjoyfull. Agar Learning Outcomes kita dapat tercapai memenuhi kriteria SMART. Specific (terperinci seluruh aspek yang akan kita ajarkan dan lakukan); Measurable (semua dapat diukur); Attainable (dapat dicapai dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan); Relevant (yang sesuai dengan konteks materi dan kebutuhan siswa); dan Timely (yaitu seluruh waktunya cukup untuk menuntaskan apa yang telah direncanakan).

Kegiatan pembelajaran hari ini sangat menarik. Undian tadi memancing adrenalin peserta. Saat akan diundi seluruh peserta harap-harap cemas. Keseruan terus berulang saat salah satu nama itu keluar. Namun aturannya adalah setiap sesi diskusi akan ada tiga nama yang keluar. Setelah sesi itu selesai maka kertas yang berisi nama tersebut dimasukkan kembali dalam kotak. Jadi ada kemungkinan iya akan terpilih lagi sebagai pembicara. Disitulah tantangannya. Seluruh peserta harus selalu siap sepanjang sesi pembelajaran. Setelah mendapat giliran berbicara bukan berarti dia akan bersantai karena tak akan lagi mendapat giliran.

Kondisi yang terjadi, juga sangat berbeda apa yang saya lakukan. Siswa yang sudah ditunjuk akan santai saja hingga akhir pembelajaran karena merasa tugasnya selesai. Pembelajaran berharga dari Mr. Gan ini sangat baik untuk diterapkan. Apalagi ternyata ada teman yang justru sampai empat kali namanya keluar dalam undian.

“Wah, pak Hardani ni,… bertuah kali. Sampai empat kali pula namenya keluar”, kata Mr. Gan dengan cengkok Melayunya.

Sesi kedua kuliah kami hari ini adalah materi dari Ms. Teh Kim Hong mengenai Planning a Lesson STEM in a Mathematics and Integration STEM in a Lesson Planning. Dalam sesi ini kami mulai dikelompokkan dalam tingkatan Primary and Secondary School. Sekolah Dasar di bagi dalam tiga kelompok beranggotakan 4-5 orang sedangkan SMP dalam dua kelompok beranggotakan 4-5 orang.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190312-WA0041.jpg
Dokumentasi: Photo Proses Diskusi dalam kelompok di bimbing Mrs. Teh Kim Hong

Terlebih dahulu Ms. Teh Kim Hong memperkenalkan sebuah Pendekatan Pembelajaran yang selama ini digunakan oleh sekolah-sekolah Malaysia. Pendekatan Pembelajaran itu adalah 5E (Engage, Explore, Explain, Elaborate, dan Evaluate). Yah… hampir mirip-miriplah dengan 5M (Mengamati, Menanya, Memikirkan, Mencoba, dan Mengkomunikasikan) yang biasa kita kenal dengan Santific Approach. Tapi namanya belajar maka kita tentu harus menyelami lautan ilmu yang luas itu. Bukan bermaksud membenamkan diri lantas membenarkan semuanya, melainkan bijak mengambil hal-hal yang baik untuk diterapkan.

G:\foto-foto di recsam\foto\105NIKON\DSCN1537.JPG
Dokumentasi: Photo Proses Diskusi Peserta dalam kelompok di bimbing Mrs. Teh Kim Hong

Kegiatan ini tak begitu lama karena hari ini adalah hari jum’at. Tepat pukul 12.30 kami yang laki-laki diantar menggunakan Bus Seameo-Recsam Penang kesalah satu masjid terdekat. Ini kali pertama saya shalat jum’at di luar negeri. Masuk ke Masjid saya perhatikan Jama’ah yang berdatangan berasal dari ras yang beraneka ragam. Ada melayu, china, arab, pakistan, bangladesh, dan India.

Saat perjalanan pulang, sepanjang jalan dalam benakku terlintas bahwa Indonesia benar-benar sangat kaya. Saya membayangkan teman-teman yang hari ini berada di Belanda, China, Thailand, Australia, dan Jepang saat mendengarkan Khotib membacakan Khotbahnya dengan bahasanya masing-masing pasti mereka akan kalang kabut. Syukur-syukur jika khotbahnya menggunakan bahasa Inggris. Hari ini, Shalat Jum’at pertamaku di luar negeri alhamdulilah seluruh isi khotbahnya ku mengerti. Tak perlu jauh-jauh ke Belanda, China, Thailand, Australia, atau Jepang  untuk mendengar Khotbah dengan bahasa yang tak dimengerti. Cukup berkeliling Indonesia saja, dan Khatibnya membacakan khotbahnya dengan bahasa Daerah yang berbeda dengan bahasa Daerah kita, maka sama saja kita sedang mendengarkan orang Belanda, China, Thailand, Australia, dan Jepang sedang berbicara. Benar-benar Indonesiaku sangat kaya. Teringat cerita Pak Sigit terkait pengalamannya Shalat Jum’at di Australia. Khatibnya yang ceramah di dampingi oleh penterjemah. Khatibnya memakai bahasa Inggris, sedangkan penerjemahnya memakai Bahasa Arab.

Jiah…… (Sambil Pukul Jidat) …. Sama aja…. Bapake…. Bapake…..

Semoga Allah melindungi saudaraku yang berada di Australia. Sungguh pilu hari mendengar betapa Biadabnya pelaku menembaki orang yang sedang beribadah…. Apakah ini arti dari sebuah toleransi yang sering diteriakkan….

Lampu teras Asrama mulai redup, semua kembali ditelan sepi. Tugas mengantar Ibu-Ibu Belanja juga telah ditunaikan kini pegal di Betis saja yang menemani.

Teman kamarku entah kemana. Sejak malam pertama hingga malam ini selalu ditinggalnya aku sendiri. Tahu-tahu saat bangun subuh beliau sudah ada di ranjang sebelahku.

Mungkin sepi ini adalah takdirku, agar aku bisa berlama-lama bercanda denganmu dalam fantasiku.

International House SEAMEO-RECSAM, Penang-Malaysia

15 Maret 2019

Phi atau Pipi

Oleh: Alphian AbuFarisArkhan

Tak ade sesiapapun…. Sendiri Je…. Duduk memandangi cermin tepat dihadapan tempat tidurku. Wajah nampak mengkilat merah merona digaris pipi yang enggan tersenyum. Kamar yang sedari pagi kutinggal dalam keadaan tak begitu rapi, ternyata sudah tertata rapi kembali. Begitulah standar operasional asrama yang kami tinggali. Setiap hari kamar akar dibersihkan oleh petugas saat pemilik kamar sedang mengikuti kegiatan perkuliahan.

Semua telah teratur rapi kecuali baju kaos kuning yang selalu kupakai saat tidur malam tetap berada di atas bantal. Memang setiap hari tak pernah kupindahkan baju itu saat ku buka akan kuletakkan disisi bantal. Entah mengapa petugas tak pernah menyentuhnya. Padahal semua yang ada dikamar iya tata hanya baju itu saja yang tak pernah berubah posisinya.

Mengingat perbincangan dengan pak Zazuli beberapa malam yang lalu diteras depan kamar saat kerja resume. Perbincangan sampai larut malam itu pak Zazuli hanya ditemani segelas kopi.

“Wah, pak Zazuli ini suka banget kopi yah?” tanyaku.

“Iya, kopi itu sudah jadi hobi saya, apa lagi kalau lagi dalam keadaan santai atau banyak kerjaan” jawabnya.

“Biasanya orang yang suka ngopi, pasti suka ngerokok juga?” tanyaku lagi.

“Benar itu, saya juga suka ngerokok” sanggahnya.

“Lah, kok bapak nggak nngerokok sekarang?” aku menimpali.

“Wah, disini aturannya ketat pak, gak boleh sembarang ngerokok. Jika ketahuan maka akan didenda dengan jumlah yang sangat besar” katanya serius.

Wah, pantas saja dia tak berani. Rupanya beliau pernah disampaikan oleh satpam Seameo-Recsam ini tentang larangan merokok di depan umum. Jika ketahuan maka bisa kena Sanksi yang tidak ringan. Luar biasa, penegakan aturan yang sangat ketat dan disiplin. Pantas saja sudah beberapa hari saya berada di kampus ini, belum pernah melihat ada puntung rokok yang berserakan apalagi orang yang merokok.

Begitu juga budaya disiplin yang sangat baik dikampus ini. Seluruh kegiatan yang dijadwalkan dipastikan berjalan sesuai waktu mulai dan berakhirnya. Tak ada istilah ngaret ataupun lelet. Banyak lagi hal yang membuat saya sedikit tercengang ketika melakukan komunikasi dengan penduduk sekitar. Bahasa Inggris merupakan bahasa yang sangat familiar bagi masyarakat Penang. Dimana-mana kami pergi selalu bertemu dengan orang yang sangat pasih bahasa inggrisnya. Entah itu di pasar, Mall apatah lagi di kampus. Padahal bahasa nasional Malaysia adalah bahasa Melayu Juga samalah dengan Indonesia.

Kami selalu memulai kegiatan dengan disiplin. Hari ini setengah jam sebelum perkuliahan dimulai, semua telah berada di dalam kelas. Dimulai breafing yang dipimpin oleh bapak Agus sebagai pimpinan Rombongan kami setelah ditinggal oleh Bu Anna dan Pak Suhadi. Beliau memberikan deskripsi kegiatan yang mesti kami lakukan untuk hari ini. Diskusi ringan hingga akhirnya kami berdoa bersama sebelum memulai kegiatan.

Tepat Pukul 08.30 Mr. Daniel Liong masuk kedalam kelas. Menyiapkan materi dan paparannya tak lama kelaspun dimulai. Materi kami saat ini adalah Heuristics In Problem Solving. Materi ini erat kaitannya dengan STEM yang sudah kami dapatkan melalui Dr. Warabhorn. Seperti biasa mereka selalu memulai kegiatan dengan Barainstorming. Beliau memberikan gambaran yang sangat detail disertai aktivitas yang membuat kami semakin paham tentang STEM. Beliau justru menginformasikan bahwa bukan hanya STEM yang ada saat ini (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) ada juga STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) bahkan ada juga STREAM (Science, Technology, Really, Engineering, Art, and Mathematics). Begitu banyak yang harus kita pelajari jika kita ingin menjadi lebih baik. “Tetapi waktu yang dapat saya gunakan untuk sharing ilmu pengetahuan sangat terbatas cuman 4 Jam Sahaja” Katanya dalam bahasa melayu.

G:\foto-foto di recsam\foto\104NIKON\DSCN1357.JPG

Dokumentasi: Photo bersama Mr. Daniel saat memberikan materi kepda peserta

Permainan tim berempat dengan cara berdiri di bidang papan persegi panjang yang sempit. Seluruh anggota harus berdiri dipapan tersebut dengan dua kaki menginjak papan. Tak boleh ada yang mengangkat satu kaki atau terjatuh dari papan. Jika ada yang melanggar maka dinyatakan gagal. Sederhana namun sangat seru dan menegangkan. Bapak-bapak dengan badan yang lumayan besar sejumlah empat orang berusaha untuk berdiri dalam bidang sempit. Hmmm,…. Butuh tekhnik yang matang. Walhasil…. Tim bapak-bapak akhirnya gagal setelah bertahan selama 36 detik karena salah satu peserta terpeleset dan kakinya terangkat dan menyentuh lantai.

Dilanjutkan dengan tim emak-emak. Rupanya mereka sudah sangat siap. Belajar dari kesalahan tim bapak-bapak mereka ternyata sudah mengatur strategi untuk menang. Benar saja, mereka telah mengatur posisi yang sangat rapat dan saling berpelukan. Posisi ini tentu sangat kuat jika dibandingkan bapak-bapak yang berdiri dengan posisi tak beraturan dan hanya saling berpegangan tangan. Okelah… lebih dari 40 detik bertahan tropi kemenangan untuk tim emak-emak militan.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190315-WA0002.jpg
Dokumentasi: Photo bersama Mr. Daniel saat peserta bermain Tim Building

Dari permainan ini dapat ditarik semuah pelajaran bahwa, kondisi kadang memaksa kita mengambil keputusan untuk tetap survive. Strategi yang tepat tentu akan membantu kita dalam memecahkan masalah. Sekali mencoba mungkin saja tidak langsung benar. Belajar dari kesalahan membuat kita akan menemukan sesuatu yang baru. Tak perlu takut salah, karena yang terpenting adalah prosesnya bukan hasilnya.

Dalam konteks pendidikan misalnya, paradigma mengajar siswa dengan berorietasi pada hasil menjadikan siswa bagai kelinci percobaan dari eksperimen yang dilakukan oleh guru. Siswa diberikan serangkaian tugas untuk diselesaikan setelah sebelumnya diajarkan mekanisme kerjanya. Ujian diberikan untuk mengukur apakah siswa telah menguasai materi yang diberikan. Siswa yang mampu menjawab semua soal dengan baik maka guru berkesimpulan bahwa siswa tersebut telah paham. Bagi siswa yang tidak mencapai target maka guru berkesimpulan siswa tersebut belum paham. Perlu diberi remedial sampai dia paham.

Padahal yang terjadi adalah, siswa yang mampu menjawab soal dengan baik adalah mereka yang mempunyai kemampuan fokus dan menghafal yang baik. Dengan kemampuannya tersebut mereka hafalkan seluruh materi yang telah diberikan oleh guru bahkan sampai paragraf dan tanda bacanya. Ketika guru memberikan tes dengan soal untuk menguji pemahamannya maka siswa dengan mudah akan menjawabnya. Tapi apakah siswa paham dengan apa yang dia hafalkan, maka ini masih tanda tanya besar. Hal ini dapat dibuktikan, setelah beberapa hari ujian, kemudian siswa tadi kita tanya kembali materi yang yang telah ia lulusi ujian, iya ternyata telah melupakan apa yang telah ia hafalkan.

Paradigma ini harus dirubah, menurut Dr. Daniel. Pembelajaran bukan hanya sekedar melihat apa hasilnya. Tapi yang harus diperkuat adalah hasilnya. Tak perlu benar asalkan siswa benar-benar terlibat dalam proses belajar. Mereka membentuk sendiri pemahamannya melalui rekayasa yang dibuat oleh guru dalam sebuah skenario pembelajaran.

Ini kami dapatkan dalam kegiatan diskusi kelompok. Dr. Daniel tidak memberikan Soal, tetapi hanya kasus yang akan dipecahkan secara berkelompok. Satu kasus bisa dengan berbagai bentuk penyelesaiaan. Benar atau salah tak jadi soal bagi belaiau. Yang penting adalah semua aktif dan semua belajar.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190315-WA0014.jpg

Dokumentasi: Photo bersama Mr. Daniel setelah sesi perkiliahan memberikan Cenderamata dari Peserta

Oh ya, ada satu lagi yang unik dari beliau. Bahwa dia tak suka jika saat mengajar ada siswa yang angkat tangan ketika ingin menyampaikan pendapatnya. Hal itu baginya sangat mengganggu. Siswa yang angkat tangan ketika akan berbicara adalah siswa yang siap. Guru pasti akan memalingkan seluruh perhatiannya kepada siswa yang telah siap tersebut. Ini sangat berbeda dengan kebiasaan saya ketika di kelas. Baginya semua siswa harus belajar, jadi siapapun yah… harus siap tak perlu mengajukan diri. Ketika ditunjuk maka ia harus siap.

Materi kedua pada hari ini adalah Exemplary Lesson of Inquiry-Based Teaching & Learnig Mathematics Classroom yang dibawakan oleh Mr. Gan Teck Hock. Materi yang dia bawakan kali ini adalah 100 persen praktek langsung. Berbagai permainan pembelajaran matematika diperkenalkan kepada kami. Salah satunya adalah bermain sekop biji Saga. Permainan ini merupakan permainan Tradisonal masyarakat Malaysia. Nama permainannya adalah Scooping Saga Seeds. Permainan ini dimainkan oleh beberapa anak secara bergantian. Aturannya adalah mereka akan menyekop beberapa biji saga yang berhamburan di atas meja dengan menggunakan sekop dari kertas. Saat menyendok biji tersebut tak boleh berhamburan dan menyentuh biji yang bukan target. Permainan ini sangat syarat dengan keterampilan matematika. Pemain yang mengumpulkan biji Saga terbanyak maka dialah pemenangnya.

Selain bermain biji Saga, Mr. Gan juga mengajarkan kami tentang pembelajaran matematika dengan Pattern (Pola). Pokoknya seru dan membuat kami makin paham dengan Inquiry Based learning. Terakhir beliau memberikan materi kaitan antara Inquiry Based Learning dengan STEM. Kedua hal ini terhubung dengan Tahapan Engineering Design Process. Tak boleh terpisahkan untuk membantu manusia memecahkan berbagai masalah kehidupan. Berbagai terapan STEM itu juga lahir dari Inquiry Based Learning. Berbagai penyederhaan fasilitas yang kita rasakan manfaatnya saat ini meski sangat kecil dan sederhana itu tak lepas dari kolaborasi dua pendekatan Ilmu Pengetahuan tersebut.

Dia mencontohkan, kaleng minuman Coca-Cola. Sangat sederhana, ringan, dan tahan lama. Bentuknya juga disukai oleh segala kalangan. Aman dan mudah untuk dibawa kemana-mana. “Inilah contoh perpaduan tersebut” katanya. Mengapa kaleng tersebut tidak bulat saja seperti bola, atau runcing saja seperti Piramida. Tentu ini ada kaitannya dengan Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Proses elaborasi sampai menemukan design yang tepat itulah yang di sebut proses Inquiry. Memilih bentuk tabung juga tentu ada alasannya dan melalui proses penilitian dan perhitungan matematika yang tepat. Menghitung biaya produksi hingga efisiensi pemanfaatan bahan yang kuat lengkap dengan ukurannya tak sesederhana yang kita bayangkan.

Mr. Gan juga menampilkan bagaimana matematika menyelesaikan persoalan kemasan minuman ini dengan rumus matematika. Hahahaha…. Ternyata matematika memang luar biasa. Hanya kita saja yang tak ada minat untuk mempelajari dan mengembangkannya.

Mr. Gan Berbicara panjang lebar tentang luas dan keliling lingkaran alas dan atas tabung ?r2 dan 2?r. Hal mengingatkan saya dengan pesan Gambar yang masuk di Inbox WA. Kiriman itu masuk ketika lepas makan siang. Kiriman itu sangatlah istimewa bagiku.

Betapa tidak Kepala PPPPTK Matematika Jogjakarta Dr. Hj. Daswatia Astuty yang mengirimkannya langsung. Wah…. Bahagianya. Isi nya adalah Peringatan Hari Phi (?) sedunia yang dilaksanakan di Kantor PPPPTK Matematika Jogjakarta yang jatuh pada hari ini 14 Maret 2019. Wah, pasti baru tahukan bahwa ada hari Phi sedunia? Sama, saya juga baru tahu hari ini, hehehe.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190314-WA0009.jpg
Dokumentasi: Gambar Kartu Ucapan Selamat Hari Phi kiriman Bu Kapus P4TK Matematika

Phi alias 3,14 sudah tak asing. Hampir setiap orang pernah memakainya, setidaknya semasa sekolah untuk menghitung luas lingkaran atau volume bola. Meski demikian, tak banyak yang tahu tentang Phi, proses penemuannya hingga misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan. Banyak yang cuma menggunakan atau menghafalkannya, tanpa memaknai. 14 Maret selalu diperingati sebagai Phi Day. Tanggal ini dipilih sebab dalam format penulisan bulan/tanggal (3/14) tepat merepresentasikan Phi. Angka Phi yang dikenal saat ini, 3,14, adalah pembulatan. Sebenarnya, angka Phi adalah 3,141592653…. Ujung Phi, alias angka desimal dari Phi belum ditemukan.

Selamat hari Phi Sedunia, tak usah dipersoalkan lagi soal pipiku yang yang merah merona karena terpapar panasnya Matahati dan hawa udara Penang disiang hari. Toh juga hari telah perlahan senja. Sudah saatnya kusingsingkan lengan baju menuju baskom merah yang telah tersenyum manja dengan cucian seminggu yang telah menunggu.

Phi dan Pipi… yang jelas hari ini aku masih merindu.

Maaf yah, jika ada yang merana dengan tulisanku tentang rindu kemarin, hingga harus tersedu manja di depan pintu.

International House SEAMEO-RECSAM, Penang-Malaysia

14 Maret 2019

Rindu Itu Berat Jenderal

Oleh: Alphian AbuFarisArkhan

Pagi dini hari waktu Penang, terjaga dari mimpi karena lentingan Nada Alarm HandPhone Pak Zazuli dengan irama khas melayu Bangka Belitung yang memecah sunyinya malam. Mata masih mengantuk melihat rindu yang kutitipkan semalam belum berbalas. Entah mungkin iya lelah, atau mungkin pula sudah tak peduli… hehehe. Semoga nada rindu ini selalu bersambut begitu doaku di 1/3 malam terakhir.

Pagi mulai menyingsing memerah jingga ufuk timur langit Penang. Kubuka pintu kamar sembari duduk memandangi gelapnya pagi buta menunggu Azan Subuh berkumandang ditelinga. Masih saja sepi sejak semalam tak ada yang berubah.

Memulai aktifitas pagi sendiri di depan pintu, pecah kesunyianku ketika ketika kudengar langkah bergegas tak beraturan menaiki anak tangga. Dalam remang kuperhatikan dari kejauhan siapakah gerangan.

“Wah…., ngapapain bu Subuh-subuh sudah rusuh?” tanyaku.

“Ini ada barang mau dikasih ke Pak Anang, mungkin masih tidur tapi harus saya kasih karena pagi ini harus segera ke Bandara” kata Bu Anna”.

Itu teryata bu Anna sudah siap-siap untuk pulang ke Indonesia pagi ini. Beliau bersama pak Suhadi ternyata sudah ada jadwal penerbangan pukul 10.00 dari Penang.

Waktu subuh yang ditunggupun tiba, kutunaikan segera panggilan Illahi mengharap keridhaannya dan petunjuknya. Hingga akhirnya bersiap untuk pagi sekali ke tempat sarapan menunaikan perintah Pak Suhadak Ketua Kelas kami. Beliau memberi ultimatum agar semua lebih pagi dari biasanya bersiap kuliah dan sarapan karena akan ada sesi photo bersama dengan kedua panglima yang murah senyum itu depan kampus sebelum mereka pulang. Semua berjalan lancar dan kami harus rela melepaskan mereka kembali memenuhi panggilan tugas.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190313-WA0045.jpg
Dokumentasi: Photo Peserta dengan Bu Anna dan Pak Suhadi sebelum mereka kembali ke Indonesia

Tepat pukul 08.00 waktu Penang perkuliahan dimulai. Dr. Warabhorn Preechaporn melanjutkan perkuliahan dengan materi Integration of STEM in Mathematic Classroom. Kegiatan kali ini berbeda dengan kegiatan kemarin dimana sebelumnya kami hanya disajikan berbagai teori dan konsep mengenai STEM. Pagi ini seperti kebiasaan Dr. Warabhorn memulai kegiatan dengan Brainstorming dengan berbagai cerita yang terkadang membuat kami tertawa.

Beliau mulai bercerita tentang begitu cepatnya perubahan dunia itu terjadi. Diawali dengan pertanyaan sederhana, “ketika kalian lapar apa yang akan anda pikirkan atau lakukan?”.

Berbagai jawaban timbul dari para peserta. Ada yang menjawab Mencari di dapur, membeli di warung makan, memasak, memesan makanan siap saji lewat online, menyuruh istri menyiapkan, atau mencari makan di rumah istri kedua,…. Upss… disambut gelak tawa peserta dan Dr. Wara.

Beliau berkisah, semasa kecilnya ketika hendak makan harus memasak menggunakan Tunggku dan kayu bakar. Perkembangan saat ini orang sudah meninggalkan kayu bakar beralih ke Kompor minyak, gas ataupun listrik. Bahkan karena semakin berkembang ada orang bisa makan meski tak pernah memasak. Iya… betul makanan cepat saji. Dimana saja kita berada tinggal pesan maka makanan itu akan datang.

G:\foto-foto di recsam\foto\104NIKON\DSCN1297.JPG
Dokumentasi: Proses Pembelajaran Dr. Wara menyampaikan materi kepada peserta tentang membuat Prototype Roller Coaster

Dulu di kampungnya yang memiliki TV hanya beberapa orang saja. Itupun TV nya masih sangat sederhana hanya dengan dua warna Hitam dan Putih. Ketika akan menonton maka warga kampung akan berkumpul bagai hendak nonton bioskop. Terkadang mereka harus mengantri pada jam-jam tertentu. Ternyata tidak jauh bedah yah, antara Thailand dengan Indonesia. Kisah masa kecilku juga seperti itu. Serta berbagai cerita lain yang membuat peserta kadang terbawa nostalgia dimasa lalu.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190313-WA0053.jpg
Dokumentasi: Proses peserta membuat Prototype Roller Coaster

Beliau mulai masuk kepada materi penerapan STEM dalam pembelajaran matematika di dalam kelas. Beliau menyampaikan model STEM yang akan diterapkan adalah model terintegrasi. Artinya bahwa Science, Technology, Engineering, dan Mathematics diajarkan dalam bentuk yang tidak terpisah atau terintegrasi. Beberapa contoh penerapan STEM dalam kehidupan sehari-sehari seperti Theme Park atau Wahana Tempat Bermain yang didalamnya ada Seluncuran, RolleCoaster dan berbagai permainan ekstrim lainnya.

sampai ketujuan,….. yesss….. berhasil.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190313-WA0062.jpg
Dokumentasi: bersama Dr. Wara memamerkan Prototype Roller Coaster

Kegiatan kali ini, beliau mengajarkan kami cara membuat jenis terapan STEM sederhana berupa miniatur atau Purwarupa/Prototype Seluncuran/RolleCoaster. Dengan bahan-bahan sederhana seperti koran bekas, kertas bekas, gunting, cutter, lem, selotip, mistar, papan ujian, dan kelereng. Diwajibkan bekerja sama dalam kelompok akhirnya semua kelompok menunjukkan kebolehannya dalam membuat meniatur tersebut. Walhasil berbagai bentuk miniatur seluncuran/rollecoaster tercipta sembari sesekali terdengar gelak tawa disertai teriakan histeris ibu-ibu ketika kelereng digelindingkan pada papan seluncuran dan berhasil.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190313-WA0063.jpg
Dokumentasi: Model Prototype Roller Coaster yang kami hasilkan

Untuk sesi berikutnya kembali kami bertemu dengan Mrs. Teh Kim Hong dengan materi yang berbeda dengan sebelumnya yaitu Invasion of Big Data in Math Classroom. Materi ini tidak kalah menariknya. Pada sesi ini diawali dengan kegiatan diskusi kecil dalam kelompok hingga diskusi besar dalam kelas. Temanya adalah peranan media sosial sebagai salah satu objek Big Data. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusi kelompokknya. Diskusinya sangat dinamis dengan berbagai issu terkait dampak positif dan negatif media sosial. Penyebaran berita bohong atau Hoaks menjadi sorotan dalam diskusi ini. Begitupun terungkap tingginya frekuensi penggunaan Media Sosial ini sehari bahkan ada yang menggunakannya sampai 10 jam bahkan lebih, hmmmm.

Inti dari sesi ini adalah bukan untuk membahas dampak negatif dari media sosial itu, misalnya meningkatnya angka prustasi suami atau istri ketika berangkat kerja tapi Handphonenya ketinggalan di rumah. Tapi fokus dari pembahasan ini adalah memberikan pemahaman kepada kami bahwa sesungguhnya setiap hari manusia beraktivitas berkaitan dengan data. Sebagai guru misalnya data yang kita kelola tidaklah sedikit bahkan sangat banyak. Data ini harus dikelola dengan baik agar memberikan kepuasan pelayanan pada siswa kita. Apalagi data itu bisa saja akan dibutuhkan pada masa depan atau data masa lalu dibutuhkan saat ini. Bijak dan terampil dalam memanfaatkan berbagai akses kemajuan technology saat ini kiranya akan sangat membantu guru dalam melaksanakan tupoksinya.

Setelah istirahat siang kami kembali ke kelas mengikuti perkuliahan yang dibawakan oleh Mr. Gan Teck Hock yang mengangkat tema Inquiry-Based Teaching & Learning in Mathematic Classroom. Diawali dengan kegiatan bermain ringan menggunakan tutup botol bekas peserta jadi tahu apa itu Inquiry-based teaching & learning. Dalam sesi ini makin jelas posisi guru dan siswa dalam pembelajaran. Siswa atau pembelajar dalam Inquiry melakukan aktivitas Bertanya, merancang dan menerapkan sebuah metode untuk mendapatkan informasi yang baru, menganalisis dan mensistesis informasi yang baru, mengkonstruksi pemahaman yang baru, dan menerapkan atau memperdalam pengetahuan baru. Adapun aktivitas guru adalah sebagai fasilitator, bertanya dengan pertanyaan yang mengarahkan siswa membentuk pengetahuannya, scaffolding, dan let go atau mengeksplorasi pemahaman siswa tanpa membatasi.

Hari ketiga menerima materi membuat kami makin bersemangat. Bersemangat karena ternyata rasa kami sama semua. Yaitu rindu… yah saling menghibur satu sama lain. Biarkan rindu itu mengalah dengan keceriaan saat belajar. Kelak akan tiba masanya ia akan berlabuh.

Pak kenapa kok sering menyendiri… tanya seorang sahabat kepadaku. “Apakah bapak kurang bahagia?”. Wah jangan salah, menyendiri itu bukan karena tak bahagia. Tapi karena saya sedang memikirkan apalagi yang akan saya lakukan untuk membahagiakan orang-orang yang saya Cintai….

Jangan Rindu, Rindu Itu Berat Jenderal….. (Sambil mencakar tembok disamping kasur).

International House SEAMEO-RECSAM, Penang-Malaysia

13 Maret 2019

Panglima Murah Senyum

Oleh: Alphian AbuFarisArkhan

Malam ini, suasana asrama mulai hening. Waktu belum begitu larut namun hampir tak ada kegaduhan seperti malam pertama kami di Internasional House SEAMEO-RECSAM ini. Hanya sesekali terdengar ada pintu terbuka dan akhirnya kembali tertutup sunyi pun kembali menghampiri.

Sore tadi selepas kegiatan kelas, memang saya sempat ketiduran. Setelah bangun rupanya waktu magrib sudah hampir masuk. Memeriksa kondisi kamar ternyata pak Zazuli Samsam guru Senior nan energik dari Bangka Belitung (Negeri Laskar Pelangi) teman sekamarku itu tak ada. Buka WA rupanya beliau sedang keluar sejenak untuk mencari kudapan malam kuliner khas Penang Malaysia.

Kulangkahkan kaki menuju Tandas (WC dalam bahasa melayu) membersikan tubuh yang seharian beraktivitas dan menyucikan diri untuk menghamba kepada Rabb semesta alam.

Semua telah beres, mulai kubuka laptopku. Tugas membuat resume dan Jurnal pelajaran hari ini harus segera diselesaikan. Masih ada sekitar 13 resume materi kedepan yang menunggu. Jika tak dicicil maka dipastikan kerjaan ini akan berat menumpuk di akhir. Jemari mulai menari di atas keyboard laptop yang selalu setia menjadi pelipur lara dalam segala kondisi. Dia tahu persis setiap ungkapan hati yang tertuang dalam tiap untaian kata pada lembaran yang kutulis.

Satu persatu catatan, hand out dan memori kupanggil kembali. Di awali dari kegiatan di pagi hari bersama Mr. Liman Anthony dengan sabar mengajari kami materi tentang Familirisation to Recsam ICT System. Kami diperkenalkan bagaimana system kerja ICT dalam laboratorium Recsam. Wah, ternyata seluruh komputer dalam Labtoratotium itu terkoneksi dalam Local Area Network (LAN). Sangat efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kerja yang melibatkan banyak orang. Seluruh data dengan mudah dapat diakses dan dishare oleh rekan kerja tanpa harus berbagi melalui Flashdisk yang sangat rentan untuk berbagi Virus jahat.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190313-WA0014.jpg
Dokumentasi: Mr. Liman saat membawakan materi tentang Familirisation to Recsam ICT System

Selain memperkenalkan mekanisme kerja sistem ICT Laboratorim Komputer, Mr. Liman begitu sapannya juga mengajarkan kami bagaimana cara memaksimalkan pemanfaatan Ms. Office World, Ecxel, dan Power Point dalam Pembelajaran. Ilmu ini tentu bukan hal yang baru bagi kami, tapi meyakinkan bahwa aplikasi yang sangat familiar ini untuk membantu tugas dan fungsi sebagai guru itulah yang menjadi penekanan. Kondisi di lapangan ternyata banyak guru yang belum begitu maksimal dalam memanfaatkan ke tiga jenis Ms. Office ini.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190313-WA0016.jpg
Dokumentasi: kegiatan peserta saat belajar materi tentang Familirisation to Recsam ICT System

Kami juga diperkenalkan bagaimana membuat dan memaksimalkan penggunaan Gmail melalui Google Drive dan Google Form. Hal inipun bukan hal baru bagi kami. Tetapi memastikan bahwa ini penting dan sangat membantu itulah yang ingin beliau sampaikan. Trik mendownload dan mengkonversi video dari Youtube dan menjadikannya sebagai media pembelajaran juga bukan hal baru. Melalui kegiatan ini kami bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam hal kemajuan ICT di Indonesia tak jauh ketinggalan bahkan berani saya katakan kita bisa bersaing dengan negara lain. Hanya saja kita belum begitu tahu apa kegunaannya dan bagaimana menerapkan dalam pemecahan masalah kehidupan terutama terkait dengan tupoksi sebagai guru. Inilah sebenarnya yang menjadi point penting dalam sesi ini. Banyak orang sangat terobsesi dengan berbagai kemajuan, sementara yang sederhana saja belum mereka maksimalkan. Apa yang terjadi, mengejar kemajuan tanpa pondasi yang kuat membuat apa yang dibangun itu lemah dan kapan saja mudah rapuh, roboh dan dilupakan.

Pada sesi kedua melalui Mrs. Teh Kim Hong yang sangat semangat mengajarkan kami tentang 21st Century Learning Skills & Mathematic Teaching & Learning. Dalam materi ini kembali dikuatkan tentang kompetensi yang mesti dimiliki oleh siswa kita di abad 21. Inipun bukanlah hal yang baru. Di Indonesia juga sudah kita dapatkan dalam berbagai pelatihan terkait dengan Kurikulum 2013. Namun hal menarik terungkap adalah dikalangan guru berkembang penguasaan keterampilan ini hanya sebatas tahu konsepnya tapi praktisnya di lapangan sama saja dengan abad 18, 19, dan 20. Hal ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara di Asia tenggara juga masih banyak yang seperti itu. Melalui kegiatan kerja kelompok berbasis kasus, kami sadar ternyata konsep keteampilan abad 21 ini mesti benar-benar tertuang dalam proses pembelajaran. Creative Thingking, Critikal Thingking, Communication and Colaboration harus muncul melalui proses pembelajaran yang didesain guru dengan apik.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190312-WA0035.jpg
Dokumentasi: Kegiatan peserta saat belajar materi tentang 21st Century Learning Skills & Mathematic Teaching & Learning oleh Mrs. Teh Kim Hong

Sesi ketiga, Dr. Warabhorn Preechaporn seorang Ilmuwan matematika keturunan Thailand mendampingi kami dalam materi STEM Education in Math Classroom. Science, Technology, Engineering, and Mathematics bagi saya ini adalah hal yang baru. Istilah STEM sudah sering didengar bahkan menjadi perbincangan di kalangan guru. Di Indonesia sedang hangat diperbincangan dan dilatihkan ke guru mengenai pembelajaran Higher Order Thingking Skill. Sementara tantangan era Industri 4.0 mengharuskan pengusaan ilmu yang memadai dan menunjang pencapaian tersebut. Penguasaan ilmu pengetahuan dalam bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics menjadi sangat penting. Oleh karena itu, Dr.Wara begitu sapaannya menyampaikan bahwa bukan jamannya lagi mengajarkan Ilmu itu hanya sekedar untuk diketahui. Jauh dari itu, siswa harus tahu apa ilmu yang akan dipelajari, bagaimana mengembangkannya, dan mengapa iya harus mempelajari suatu ilmu pengetahuan. Beliau juga memperkenalkan beberapa hasil pembelajaran berbasis STEM dalam bentuk Prototype dan demo robotic.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190312-WA0065.jpg

Dokumentasi: Kegiatan peserta saat belajar materi tentang STEM Education in Math Classroom. Science, Technology, Engineering, and Mathematics oleh Mrs. Dr. Warabhorn Preechaporn

Sungguh pengalaman pembelajaran yang sangat berharga. Ketiga pemateri yang sangat luar biasa memotivasi. Meski mereka kebanyakan sudah tidak muda lagi, tetapi semangat mereka untuk belajar dan berbagi itulah yang kami jadikan sebagai inspirasi.

Menyelesaikan jurnal dan resume, sesekali saya membuka Handphone yang kadang berdering. Wah, ternyata digroup WA peserta Short Course Recsam tengah ramai. Suasana asrama sepi, tetapi malah dalam group ramai. Satu persatu pesan itu kubaca. Hmmmm,……

Pantas ramai, ternyata besok kami akan ditinggalkan dua orang yang sangat berperan penting suksesnya kegiatan kami ini. Mereka rela bekerja siang malam hanya untuk memastikan kami semua terpenuhi kebutuhan selama persiapan, pelaksanaan, hingga akhirnya nanti merencanakan rencana tindak lanjut diakhir kegiatan rangkaian short course ini.

Bu Anna Tri Lestari dan Pak Suhadi. Yah… itulah mereka yang kerap saya sebutkan dalam tulisan lalu mengenai kegiatan di SEAMEO-RECSAM ini.

Bu Anna pertama kali mengenalnya pada bulan November 2018. Kala itu saya mengikuti kegiatan ToT Instruktur Provinsi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (KBTT) berbasis PISA dan USBN di PPPPT Matematika Jogjakarta. Beliau saat itu masuk kelas saya di sesi akhir saat penyusunan Rencana Tindak lanjut dan Proposal Pengimbasan hasil Pelatihan. Saat itu sih saya belum kenal beliau, buktinya saat disuruh menuliskan nama beliau di bagian Pejabat yang bertanda tangan di RTL maupun Proposal sempat salah dan dibenarkan oleh Ibu Estina WI PPPPTK Matematika. Apalagi tentu Ibu Anna pasti tidak tahu namaku hehehe.

Saat pengimbasan hasil pelatihan di Makassar, ibu Anna diutus untuk menghadiri penutupan acara pelatihan yang sudah dilaksanakan selama tiga hari. Beliau didampingi oleh Ibu Rumiati (WI PPPPTK Matematika). Saat itulah baru sempat berkenalan dengan beliau bahkan sempat juga berphoto dengan Istri dan Anak-anakku.

Memang kalau jodoh tentu tak akan kemana, Uppsss. Pertemuan berlanjut setelah saya lolos seleksi Short Course ini. Sejak dari Pree Departure bahkan sampai ke Malaysia pun beliau yang mengantar. Aduh bahagianya…. Hmmm jangan pikir macam-macam.

Muda, cerdas, ikhlas, dan energik. Itulah gambaran yang cocok untuk bu Anna. Salut dan merinding saja saat penandatanganan MoU antara PPPPTK Matematika dengan SEAMEO-RECSAM. Beliau didaulat sebagai wakil dari Organisasi Besar Pemerintah Indonesia yaitu Kemdikbud melalui PPPPTK Matematika. Luar Biasa…..

Berikutnya pak Suhadi. Kenal beliau belum begitu lama. Sudah sering ke PPPPTK Jogja namun entah apa sudah pernah bertemu apa belum. Lupa-lupa tidak ingat…! Baru begitu jelas saat Pree Daparture. Saya sangat ingat karena beliau yang secara intens mengingatkan terkait keuangan. Hahahaha…. Kalo ini mah pasti diingat.

Santai, serius, sabar, teliti, ngangeni…. Kira-kira begitulah gambaran singkat untuk beliau. Salam hormatku pak Semoga bapak senantiasa sehat, agar nanti saat Post Daperture kita bisa bertemu kembali…. (Modus)

Yah… dua sosok keren ini, besok akan meninggalkan kami di Penang. Panggilan tugas di Tanah Air tentu sudah menunggu. Saya tahu persis dalam hati mereka juga berat untuk meninggalkan kami. Tapi tentu akan lebih berat lagi jika harus tinggal sementara kontrak kamar di asrama akan berakhir besok,…. Masa harus ngekos di apartemen…

So…, mereka adalah sosok inpiratif. Melalui mereka saya banyak belajar “arti dari sebuah pengabdian dan pelayanan”. Sukses terus, dua sosok yang murah senyum. Dua sosok yang semangat berada di garis depan terbukti saat di bandara mereka selalu di depan untuk mengurus tiket para peserta. Selalu di depan layaknya Panglima di Medan Perang.

Bu Anna dan Pak Suhadi… Panglima yang Murah Senyum….

International House SEAMEO-RECSAM, Penang-Malaysia

12 Maret 2019

Semua Berawal Dari Mimpi

Oleh: Alphian AbuFarisArkan

2019 merupakan tahun yang begitu mengesankan. Berbagai mimpi telah kusemai dengan doa yang tak kunjung putus ditahun sebelumnya. Sebagai anak kampung yang mencoba mewujudkan mimpi di rantauan mungkin agak nggak pede juga bercita-cita setinggi langit.

Serasa bagai mimpi, tatkala mendapat info bahwa namaku masuk dalam 13 guru SD yang akan diutus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui PPPPTK Matematika Jogjakarta untuk belajar di Luar Negeri.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190228-WA0010.jpg
Dokumenatasi: Photo bersama Kapus PPPPTK Matematika saat Pelepasan Oleh Kemdikbud Short Cource Enchanching Primary Mathematics Learning in STEM Environment di RECSAM, Penang-Malaysia selama bulan Maret 2019.

Saat info pendaftaran dan seleksi, berulang kali berkecamuk dalam diri mau apa tidak. Harus sadar diri dengan kemampuan karena salah satu syaratnya adalah memiliki kemampuan berbahasa Inggris Aktif baik lisan maupun tulisan.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\20190227_154138.jpg

Dokumentasi: Photo bersama Mendikbud saat Pelepasan Guru Keluar Negeri
Dokumentasi: Photo bersama Dirjen GTK saat Pelepasan Guru Keluar Negeri

Masa sekolahan yang kelam, saat itu Bahasa Inggris merupakan momok yang sangat menakutkan. “Bagiku Bahasa Inggris tak ada gunanya untuk dipelajari”, pikiran yang selalu mengusik diriku. Tiap kali Mapel ini masuk maka akan ada berjuta alasan untuk sejenak meninggalkan kelas.

Hari menjelang seleksi itu, merupakan moment penyesalan yang tak terhingga. Hati sangat ingin ikut seleksi, namun kemampuan menyadari diri juga lebih besar.

Sampai seorang sahabat sekaligus guru kehidupanku menyampaikan “Daftar sajalah, bukankah Mimpi itu harus dikejar. Jangan biarkan dia berlalu sementara engkau tidak berbuat apa-apa”.

Bagai tersentak bangun dari tidur memastikan diri untuk ikut seleksi. Keyakinan dalam diri bahwa Kompetensi itu penting tapi Doa Kedua Orang Tua dan motivasi rekan-rekan smart yakin pertolongan Allah PASTI.

Berani melangkah, dengan bermodal nekat ternyata baru tahu bahwa peluang itu sangatlah kecil.

Jumlah guru di Indonesia itu ada lebih dari 3,2 juta orang sementara guru yang dikirim hanya 1000 guru. Peluang 0,031% itu dikuatkan oleh motivasi Guru Kehidupanku, “meski itu hanya 1 orang dari sekian banyak pendaftar maka jangan pernah ragu sedikitpun yakinlah itu adalah dirimu”.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190309-WA0044.jpg
Dokumentasi: Photo bersama Bu Dr. Daswatia Astuty Kepala PPPPTK Matematika Jogjakarta dan Bu Arlina Guru SMP Maros serta Bu Masrita Ghani Guru SMP Luwu, Ke empat orang dalam Photo ini rupanya dari Sulawesi Selatan

Hari ini di sini di ruang tunggu ini, tak henti ku Ucap Syukur. Masih terbawa suasana mimpi itu terwujud saat benar-benar setelah Check In di Loket Penerbangan, Selembar Kertas Kecil Boarding Pass Bertuliskan Jakarta-KL sampai ke tanganku melalui Sosok keren dan semangat melayani kami Bu Anna dan Pak Suhadi.

Ya Allah mimpi ini nyata.

Tak sanggup kutahan derai air mataku.

Terima kasih ya Allah. Terima Kasih Mama.

Terima Kasih Papa.

Terima Kasih Anak dan Istriku.

Terima Kasih Keluarga Besarku.

Terima Kasih Rekan Sejawatku.

Terima Kasih Pimpinanku.

Terima Kasih Ortu Siswa dan Murid-muridku.

Terima Kasih Kepada Kepala PPPPTK Matematika dan seluruh staf dan Jajarannya.

Wabil Khusus terima kasih untuk semua Ilmu dan Doa dari Guru-guruku, guru akademis maupun GURU KEHIDUPANKU.

Entah dengan apa, aku mampu membalas semua ini.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190310-WA0010.jpg
Dokumentasi: Photo saat berada di Bandara sesst sebelum keberangkatan ke Malaysia, menapatap kedepan untuk terus melangkah maju meraih mimpi

Bersyukur  kepada Allah menjadi Bagian Dari Keluarga Besar Guru Indonesia yang PPPPTK Matematika kirim pertama kali untuk mengikuti program Pelatihan Guru ke Luar Negeri bertajuk Enchanching Primary Mathematics Learning in STEM Environment di RECSAM, Penang-Malaysia selama bulan Maret 2019.

Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Belajar untuk mengasah kemampuan. Kembali membangun negeri melalui pengabdian di Jalur Pendidikan.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190309-WA0032.jpg
Dokumentasi: Photo bersama Kapus PPPPTK Matematika dengan Tim Guru dan WI Indonesia yang akan ke Malaysia

Ke Luar Negeri bukan berarti mereka lebih hebat, karena aku yakin Indonesiaku jauh Lebih Hebat, Jauh Lebih Cantik dan Jauh Lebih Kaya.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190228-WA0044.jpg
Dokumentasi: Photo peserta Short Course Korea dan Malaysia saat Pree Departure di Grand Mercure Hotel Jakarta

Terminal Keberangkatan Internasional Soekarno-Hatta

10 Maret 2019

Belajar dari Pinang, Malaysia

Oleh: Tundung Memolo, SMPN 2 Kalibawang, Wonosobo, Jawa Tengah

Alhamdulillah, sudah lebih dari 10 hari menginjakkan kaki di Negeri Jiran. Atas karuniaNya kemudian terimakasih buat P4TK Matematika yang telah menyeleksi kami, sehingga mendapat kesempatan belajar atau mencari pengalaman. Ada hal yang menarik yang bisa kita belajar dari mereka ;

1. Denda bagi perokok dan pelanggar lalu lintas.

Kata petugas menu makan, denda bg perokok cukup besar 5000 RM atau 16 juta  dan denda bagi pelanggar lalu lintas 300 RM atau 1 juta. Oleh karenanya hampir tidak saya jumpai ada yang merokok di tempat umum atau tidak membawa helm di jalan utama.

2. Kebersihan

Satu hal yang sangat menarik bagi saya dan sangat terkesan adalah dalam hal kebersihan. Sudut – sudut perkotaan Pulau Pinang seperti sekitar Recsam, Bukit Jambul, dan George Town. Meskipun tidak sebersih Singapura atau Australia, Saya lihat sampah cukup minimal di sini. Hanya dedaunan yg bakal jd kompos saja di pinggir jalan. Namun sampah plastik bisa dibilang 0 sampah. Saya lihat tadi pagi misalnya, pekerja sampah semangat mengambil sampah yg terbungkus dengan plastik besar. Di pusat keramaian wisata pun luar biasa bersihnya. Bagaimana dengan tempat kita?

3. Bervariasinya kendaraan.

Pertama kali ketika menginjakkan kaki di sini, yg kuamati dengan seksama, adalah mobil dan motor. Di sini mobil terlihat variasi, ada yg modern byk pula yg jadul dan tidak didominasi oleh kendaraan tertentu saja layaknya di Indonesia. Motor era 80 atau 90an msh byk. Dengan jumlah mobil terlihat lebih banyak daripada motor. Mungkin kita malu menggunakan motor 90an di jalan , tapi di sini tidak. Bahkan cukup banyak. Varitas merk mobil lumayan banyak, sampai saya baru mengenal merk-merk mobil yang tidak dijumpai di Indonesia.

4. Masjid terpusat

Masjid Jami’ di sini lumayan besar dan terpusat. Artinya sholat jumat terpusat di masjid tersebut. Saya berjalan cepat 10 menit baru bisa dapat masjid tersebut. Meskipun di sini ada mushola, namun tidak digunakan u sholat jumat. Ketika sholat jumat, mk persatuan umat islam terlihat. Hal ini berbeda dengan di tempat kita,misalnya. Satu masjid ada tiap beberapa RT, bahkan 1 RT masjidnya bisa lebih dari 1. Sehingga persatuan umat islam saat sholat Jumat , tidak begitu nampak.

5. Penataan perumahan

Di Pinang, Malaysia rumah warga banyak tinggal di apartemen/rumah susun namun memiliki fasilitas layaknya hotel. Banyak apartemen lantai lbh dr 10 terlihat. Hal ini berbeda dengan tempat kita, yg rumah bersusun sedikit sekali yang memiliki fasilitas AC, CCTV, dan kebersihan tidak terjaga, kecuali apartemen elit. Di tempat kita, rumah tingkat lebih dari 10 lebih ke arah perkantoran, sehingga pulang kantor suasana jalan crowded (macet) karena mereka pergi ke rumah masing-masing.

Kamar C15, Recsam. 21032019