Home » BERITA » Ruang Ekspresi Guru » Makin Bertambah dan Makin Berat

Archives

Categories

Makin Bertambah dan Makin Berat

Oleh: Alphian AbuFarisArkhan

Berdiri di depan kelas memandangi hamparan luas pegunungan yang tak lagi hijau. Gedung-gedung kokoh yang berdiri kekar menjulang ke angkasa. Sesaat mata tertuju dan terpana pada deretan pepohonan nan asri di taman hijau terawat ini. Pohon Pinang, itulah namanya. Kuperhatikan rimbun dan asrinya lokasi Seameo-Recsam ini karena banyaknya pohon Pinang yang di tanam.

Baru kusadari bahwa bendera Propinsi Penang ini yang berwarna kuning di tengahnya terdapat 1 pohon Pinang. Mungkin itulah sebabnya pohon Pinang ini sangat banyak kita jumpai ketika berada di pulau Penang.

Kumulai pagiku dengan mendoakanmu disana, semoga kau tetap bahagia sehat dan tetap dalam lindungannya.

Masih saja kisah Mall Praktek cukur itu menjadi pembicaraan pagi ini. Ruang sarapan heboh dengan kehadiran Mas Anang dan Mas Praja. Habis-habisan mereka jadi bahan tertawaan.

Benar saja, potongan rambutnya sangat lucu dan aneh.

“Untung saja, segera kuhentikan tukang cukur itu. Jika tidak maka habis sudah rambutku dicukurnya” kata mas Anang.

“Waduh, sampai nangis aku tertawa melihat ekspresi mas Anang sepanjang jalan selepas pulang dari tempat cukur, wajahnya penuh penyesalan banget”, mas Praja menambahkan bumbu.

Asyik menertawakan rekannya, tiba-tiba Bu Masrita mengambil kamera handphone lalu mengambil gambar bagian belakang kepala mas Praja. Setelah diperlihatkan gambar itu, wajahnya berubah auranya.

Rupanya dia hanya tahu tampilan rambut depannya saja. Tampilan belakang yang model runcing tak seimbang itu ternyata tak di ketahui,…. Walah…. Parah… pecah suasana sarapan pagi ini dengan gelak tawa kami semua.

 “Nasib-nasib…. Sudah mahal, gak ada cermin untuk lihat belakang, main hantam saja tanpa diberi kesempatan menjelaskan model”, kata Mas Praja sambil menenangkan diri.

Masih terpaku melihat pemandangan asri itu, kulihat dari pintu utama Dr. Warabhorn Preechaphorn masuk kelas. Kutinggalkan segala lamunanku bergegas masuk menyiapkan diri untuk kuliah hari ini.

Materi yang akan dibawakan Dr. Wara pagi ini adalah Problem Based Learning the 4 Core Areas. Diawali dengan menanyakan kabar kami semua, sampai entah awalnya dari mana hingga kisah cukur rambut itu kembali terungkit. Langsung saja kelas jadi riuh lagi. Bahkan Dr. Wara sendiri sampai tak dapat menahan tawa karena merasa sangat lucu.


Dokumentasi: Photo Mrs. Wara menjelaskan materi Problem Based Learning the 4 Core Areas

Ok… sudah sekarang kita masuk materi. Soal cukur itu, biar jadi pengalamanmu selama di sini, kata Dr. Wara sambil menyiapkan bahan tayang.

Mulailah beliau masuk materi dengan memberikan beberapa kasus yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Masalah itu beraneka ragam tingkatannya. Ada masalah yang tak begitu penting sehingga tak butuh sosuli secepatnya, tetapi ada masalah yang tak bisa menunggu, harus segera dicari solusinya.

Dalam mengajar di dalam kelas, guru harus memulai pembelajaran memancing siswa dengan beberapa masalah. Masalah ini yang akan dibahas sehingga siswa mampu menemukan solusi. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan pendamping. Biarkan mereka belajar dan memainkan imaginasinya. Tak perlu guru terlalu mendampingi mereka, apalagi sampai memberi tahu jawabannya sementara mereka belum maksimal dalam menemukan solusinya.

Penerapan Problem Based Learning ini sangat efektive untuk anak sekolah dasar. Apalagi jika dipadukan dengan STEM maka sebenarnya kita sedang membentuk ilmuwan-ilmuwan baru di masa mendatang. Bukan saatnya lagi pembelajaran itu sifatnya teoretis. Guru masuk kelas menyampaikan ke siswanya, nak buka bukunya halaman sekian lalu kerjakan nomor satu sampai sekian.

Pembelajaran seperti ini memang sangat mudah dan tidak merepotkan. Gampang saja guru tinggal menerangkan caranya dan siswa disuruh mengerjakan soalnya. Jika yang kita inginkan agar anak kita hanya sekedar tahu saja, maka cara ini sudah cocok. Tetapi jika kita mengharapkan siswa kita tahu, dan menguasai ditambah lagi mereka mampu mengembangkan dan mereka menjadi ahli maka paradigma mengajar guru seperti itu harus dirubah.

Tak banyak berteori, Dr. Wara menunjukkan kami Gambar sebuah Dome (Qubah). Beliau menyuruh kami mengamati strukturnya dan menyuruh kami membuat Prototypenya. Beliau sudah meyiapkan bahan-bahannya tetapi tidak merincikan apa saja yang akan kami butuhkan. Bahan yang disiapkan oleh Dr. Wara juga sangat sederhana. Ada Pipet Plastik, Tusuk Sate, Stick Sumpit, Lem, Gunting, Cutter, Kertas dan Gardus Bekas, Mistar, Selotip, dan lain-lain. Tugas kami adalah mencari tahu sendiri bahannya dan mendesain tanpa ada langkah-langkah pengerjaan.

Dokumentasi: Photo Proses Pembuatan Prototype Dome (Kubah)

 Setiap kelompok mulai berkolaborasi dan berkreasi. Berbagai ide disatukan sehingga menghasilkan model Qubah yang bentuk dan modelnya beraneka macam. Ada yang membuat dalam bentuk menara, hexagon, Qubah Masjid, dan ada yang seperti rumah Teletabis.

Setelah semua karya selesai, maka langkah selanjutnya adalah pameran karya. Setiap kelompok secara bergantian maju untuk menceritakan apa yang telah dibuat. Setiap orang wajib menyampaikan apa kaitannya dengan Problem Based Learning dan apa kaitannya dengan STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics). Selain itu, hal yang harus disampaikan adalah ide dasar pembuatan desain, kelebihannya, dan apakah itu kuat terhadap guncangan.

Seluruh kelompok tampil dan saling mendokumentasikan moment. Pelajaran yang sangat bermakna karena kami senang dapat pengalaman langsung dalam belajar. Jika guru saja senang, maka tentu siswa akan lebih senang.

F:\Poto\Short Course Seameo Recsam Penang\IMG-20190319-WA0046.jpg
Dokumentasi: Photo Proses Menjelaskan Hasil Karya kepada Peserta lain

Materi selanjutnya adalah Observation in Mathematics Learning in the STEM Environment yang dibawakan oleh Mr. Gan Tech Hock. Dalam sesi ini kami diarahkan untuk membuat desain observasi pembelajaran. Saat praktek mengajar di sekolah nanti tugas kami adalah ada yang mengajar dan ada yang bertindak sebagai observer.

Beliau menyampaikan bahwa, observer dalam dunia pendidikan bukan sebagai hakim di pengadilan. Yang kadang bertindak sebagai observer dalam dunia pendidikan adalah kepala sekolah dan pengawas. Tugas observer ketika supervisi adalah memberi diskusi dalam bentuk bimibingan kepada gurunya. Bukan datang mencari kesalahan dan dihakimi. Poin penting yang disampaikan oleh Mr. Gan adalah Supervisor itu bukan hanya sekadar datang menagih tetapi juga harus menjalankan tugasnya sebagai pembimbing.

Dokumentasi: Photo Proses Pembelajaran Mr. Gan Menjelaskan Observation in Mathematics Learning in the STEM Environment kepada Peserta.

Seorang Supervisor harus mampu melakukan kegiatan pembimbingan kepada guru binaannya, jika telah melakukan hal itu maka langkah selanjutnya adalah memastikan program itu berjalan. Caranya adalah melalui Supervisi. Jika ada Supervisor tiba-tiba datang melakukan Supervisi tetapi dia tidak pernah melakukan pembimbingan maka yang terjadi adalah mencari masalah, atur damai, atau guru menjadi tertekan, pura-pura sakit, atau bahkan sakit beneran.

Jika semua telah berjalan sesuai program, dibina, disupervisi, dan ternyata masih didapatkan masalah, maka guru tak boleh dimarahi. Guru diajak diskusi dengan baik sehingga terbuka wawasannya untuk memperbaiki.

Iya, kurang lebih seperti itulah diskusi yang berkembang. Pikirku dalam hati, jika hal ini terlaksana maka akan sangat ideal lah pendidikan kita di Indonesia. Memang sekali lagi butuh komitmen jika kita ingin benar-benar baik.

Di akhir sesi Mr. Gan membrikan sebuah Video Inspirasi dalam pembelajaran. Video tersebut dari sebuah sekolah yang ada di Jepang. Sungguh luar biasa proses pembelajarannya. Betapa tidak gurunya seorang laki-laki masih muda dan begitu fasih dalam berbahasa Inggris. Pembelajarannya 100% berbahasa Inggris. Rupanya siswanya juga semua sangat fasih berbahasa Inggris.

Ya Allah… selama film itu berjalan… pikirku… sungguh jauh aku jika dibandingkan dengan guru tersebut. Sepanjang jalan pulang menyusuri koridor kampus menuju asrama video itu terus membayangi pikiranku.

Pikirku, memang sedikit tak rasional…. Andai semua guru di Indonesia seperti itu…. Sangat semangat dan begitu disenangi oleh siswanya.

Sampai dikamar asrama, badan nampak lelah tapi belum bisa istirahat karena cucian yang telah kering menunggu untuk dirapikan. Menyisingkan lengan baju satu persatu kusetrika dan kulipat baju itu.

Belum selesai, kuperhatikan Handphoneku berbuyi. Rupanya siswaku menyapa. Rupanya Amel dan Raina. Hmmm…..

“Assalamualaikum, Pak….”, Kata Raina.

“Walaikum salam, nak…”, jawabku.

“Pak Masih, di Malaysiaki, kangenka Pak,… Lama sekaliki bela Perginya”, kata anakku yang memang kadang bermanja padaku di sekolah.

“Mohon maaf, jika mengganggu, semoga bapak sehat dan segera kembali bersama kami. Mohon doakan siswata Zahra, Aulia dan Dhina yang akan mengikuti Lomba Bercerita. Sudah dulu yah pak guru Kesayanganku…. Bye….”Katanya dengan penuh ekspresi.

Tak mampu menahan rasa, begitu besar memang rasa rindu ini untuk mereka.

Yah sudahlah, makin bertambahlah rasa rindu ini.

Doa terbaik menyertai kalian anakku. Doakan pak Gurumu ini tetap dapat memberikan yang terbaik dan menjadi Inspirator bagi kalian dalam meraih sukses dalam hidup.

International House SEAMEO-RECSAM, Penang-Malaysia

19 Maret 2019


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *