Home » BERITA » Ruang Ekspresi Guru » Filosofi Papan Catur

Archives

Categories

Filosofi Papan Catur

Oleh: Jamila K. Baderan dari SDN 80 Kota Tengah, Kota Gorontalo

Sejak pagi aku lebih memilih berleha-leha dengan selimut tebal dibawah hembusan sejuknya air conditioner pada suhu 300 C. Sebagian besar orang pasti merasa aneh, kok suhu segitunya dibilang sejuk? Ya…bagi saya dan bu Masrita teman sekamarku yang merupakan guru salah satu SMP di Kabupaten Luwu Makassar, angka itu lumayan cukup membuat kami kedinginan. Mungkin..karena kami berdua berasal dari daerah timur yang udaranya cukup panas. Kamipun punya kebiasaan yang sama, yaitu tidak tahan udara dingin. Satu hal yang saya senangi darinya adalah ketaatannya menjalankan ibadah wajib maupun sunnah tepat pada waktunya. Seperti ketika waktu ibadah subuh pagi tadi. Meskipun ia belum bisa melaksanakan ibadah (sedang datang bulan), beliau tetap bangun pukul 4 subuh. Dalam keadaan ngantuk yang mendalam saya hanya bisa merasakan setiap gerak geriknya, dan memilih sembunyi di balik selimut.

“Bu Mila, banguuun!” begitu selalu nada morning call darinya.

“Hmm…iya, sudah bangun dari tadi.” Jawabku sambil merapatkan dekapan hangatnya si selimut.

“Weii…sudah jam enam itu!” Bu Masrita kembali mengingatkanku.

Memang begitulah pengaturan waktu di Malaysia. Kalau dilihat, tidak ada perbedaan yang ditunjukkan oleh mesin waktu, yaitu sama dengan kami yang berada di zona Indonesia bagian tengah. Hanya saja suasanya alamnya yang berbeda. Jadi, meskipun waktu telah menunjukkan pukul 06 pagi tapi suasanya sama dengan pukul 5 pagi WIB.

“Bu Milaaa…tidak mau sholat? HP ku lowbat, jadi tidak kedengaran azan shubuhnya.”

“Iya..iya…ini mau sholat!” Sontak kuhempas selimut tebal dan langsung berlari ke kamar mandi sebelum bu Masrita menyalakan lagi semua lampu kamar agar aku bangkit.

“Ngantuk ya, bagaimana semalam begadang terus!”

“Hehehe..” sahutku sambil nyengir dan bergegas memakai mukena agar tidak diomelin bu asrama (sebutan yang kuberikan padanya).

Usai menuntaskan semua keluh kesahku pada sang Khalik, aku kembali melompat ke tempat tidur dengan maksud kembali menuntaskan tidurku yang baru dua jam. Namun hingga fajar menyingsing mata ini tak mau kembali kupejamkan. Sejam…dua jam kami habiskan dengan mengulas cerita semalam tentang puisi-puisi yang kutulis sebagai ungkapan rindu yang tak tentu arah. Dengan penuh semangat ku ceritakan pula tentang puisi Pak Zazuli yang menggelitikku dengan kata Mu pada setiap baitnya.

“Mu? Maksudnya, apa itu? Mu siapa?” tanya bu Masrita dengan penuh penasaran.

“Entahlah. Aku juga semalam bertanya, saat chatingan di WA. Mu itu Siapa, di kamar berapa?” jawabku.

“Ini ada nama Ahmad Dani dan Mulan Jamila?”

“Oooh…itu…si Mas Dani pak Zazuli ibaratkan seperti Ahmad Dani!”

“Berarti MU?” tanya bu Masrita kian penasaran.

“Ooohhh…berarti Mu itu Mulan Jamila!” jawabku dengan nada agak tinggi.

“Maksudnya?” (masih tidak mengerti)

“Yaitu…saya! Kalau mas Dani itu Ahmad Dani, Mulan Jamila itu ya Aku!” Ujarku memperjelas kalimat yang tertulis di chatingan semalam.

“Ooh….hahahaha” kami berdua lalu tertawa lepas melupakan para tetangga yang mungkin masih terlelap.

“Bu Mila saya duluan mencuci ya.” Ujar bu Masrita sambil  berlalu menuju kamar mandi, sementara aku kembali asyik dengan selimut hangatku. Tak lama berselang kembali ia mengusikku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntunku pada sebuah kisah masa muda.

Cerita berawal dari perkenalanku dengan si Pujaan Hati. Panjang lebar aku berkisah melebihi jelasnya synopsis sinetron yang biasa tayang di Indosiar, SCTV maupun RCTI. Begitu menariknya kisahku hingga bu Masrita berkata, “Tunggu…tunggu, sepertinya saya pernah nonton film itu!”

“Aaahhh…tidak ada! Mana ada film seperti kisahku!”

“Iya betul, pernah kayaknya! Boleh itu, Bu Mila kisahnya diangkat jadi sebuah film.”

“Hahahaha…tak mau aku serahkan kisahku pada sutradara. Biarlah kisah ini abadi dan kunikmati setiap alurnya sepanjang hidupku!” jawabku dengan tegas.

“Waaah, Hahahaha…lucunya” kami berduapun kembali tertawa lepas seakan-akan kami sudah berteman sangat lama. Kisahpun terus berlanjut hingga di depan cafe Reksam. Segera kuakhiri kisah pagiku khawatir ada telinga lain yang ikut mendengar. Di dalam kafe ternyata sudah banyak teman yang duduk asyik ngobrol. Dengan santai kuhempaskan tubuhku pada kursi merah sambil memperhatikan situasi dan topik perbincangan teman-teman. Sedikit heran melihat meja-meja yang masih bersih tanpa piring dan gelas kotor.

“Kalian sudah makan?” tanya bu Masrita.

“Beluum. Makanannya belum ada!” Jawab bu Ida, yang bertubuh kecil namun sangat cantiik (hehehe)

Waah…berarti kita kepagian niih sarapannya, mungkin karena ini hari Minggu pikirku dalam hati. Eeh..tak semenit berlalu petugas cafe datang dan menyiapkan sarapan kami. Lumayan…pagi ini kami diberi nasi goreng dan omelet telur. Usai makan kami kembali ke kamar dan sibuk dengan kerjaan masing-masing. Seperti halnya aku, yang harus menuntaskan tumpukan cucian dan nyetrika.

Aahhh..rasanya lelah sekali hari ini. Usai menata kembali pakaian ke dalam travel bag, kembali kuhempaskan tubuhku. Sengaja siang ini aku hanya ingin tiduran saja, hingga ajakan teman-teman untuk diskusi terlupakan, bahkan ajakan teman-teman ‘ntuk traveling ke My Din pun kutolak. Kupuaskan ngantukku hingga kembali bu Masrita mengusikku dengan pertanyaan yang sama.

“Bu Mila…sudah sholat?”

“Belum, mukenaku belum kering.” Ucapku memberi alasan.

“Itu ada saya punya sudah kering. Pakai saja!”

“Iya…”

Braak!! Bunyi pintu yang kembali ditutup, entah ia pergi ke kamar nomor berapa. Namun belum lima menit berselang dia balik lagi.

“Bu Milaaa! Sudah sholat zuhur?”sedikit berteriak, bu Masrita kembali membangunkanku.

“Belum…mukenanya masih panas!” jawabku ngeyel.

“Ededeee…mau saya pukul juga ini pantatnya kalau malas sholat seperti anakku, banyak sekali alasannya!”

“Hahaha….iya, iya…! Ini mau solat, masak juga sampai mau dipukul di pantat!” jawabku tertawa sambil bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Sambil nyengir-nyengir sendiri mendengar ancaman bu Masrita, tiba-tiba kembali sosok suami tercinta hadir mengusik rindu yang semakin berat. Dia yang selalu menuntunku agar tetap lurus di jalanNya dengan penuh kesabaran. Dia yang selalu menganggapku anak kecil paling bandel dan suka menggoda (hehehe kapan sholatnya??) Buru-buru kutepis semua rinduku, mengingat waktu sholat yang terus melambai memanggilku ‘ntuk segera ditunaikan.

Usai sholat, kembali kurebahkan tubuh sambil mengamati setiap sisi dan sudut ruang kamar yang setia menemani hari-hari kami hingga dua pekan mendatang. Hmmm..sunyi sekali. Bu Masrita sudah pergi sedari tadi menuntaskas isi dompetnya. Aaah…bisa tidur enak ini pikirku, namun ternyata mata ini tak mau diajak tidur.  Kualihkan tatapanku pada handphone butut yang selalu menemaniku (kecuali ke kamar mandi dan sholat). Satu persatu kusentuh nomor-nomor cantik milik suamiku berharap bisa mendengar suara bijaknya di seberang sana. Berulang kali kucoba, lagi dan lagi namun nada dering itu tak bersambut.

Galau dalam keheningan kubuka whatsup berharap ada info baru dari grup Recsam. Tiba-tiba aku teringat pesan Jenderal (Pak Alphian) agar Fokus pada Satu Titik. Segera kusentuh kembali layar Hpku mencari tulisan beliau dan kembali kubaca tulisan tersebut untuk kedua kalinya. Ternyata Jenderal ingin mengingatkan kami agar terus bertahan, jangan sampai hilang kendali karena pertempuran baru dimulai. Yaah..benar, pertempuran melawan selaksa rindu, pertempuran melawan godaan CILOK (kata pak Yasri), dan yang paling utama adalah pertempuran menyelesaikan semua tugas agen pendidikan yang dibebankan kepada kami, sebagai bukti pertanggungjawaban kepada negara. Pesan ini sangat singkat namun Tegas  dan Emergency. Mungkin Jenderal tahu beratnya memendam rindu serta bahaya kehancuran yang bakal ditimbulkan. Yaah…itulah tugas Jenderal, mengawal pasukannya.

Pesan Jenderal ini lalu mengingatkanku pada sebuah papan catur. Permainan yang selalu kujauhi sejak kecil karena kurasa rumit, dan memang aku tak mau tahu. Namun di awal pernikahan, permainan inilah yang menyatukan kami. Papan Catur ini menjadi saksi bisu yang mewarnai masa pacaranku pasca menikah dengan dia “Imamku”. Ya..dia yang selalu mengajarkanku bagaimana menjalani hidup ini dengan benar.  Dia yang mengajarkanku bahwa dunia tak ubahnya papan catur, sementara kita manusia adalah bidaknya (buah catur). Sebagai buah catur kita harus mampu menempatkan nilai dan kemampuan kita sesuai bidak yang ingin kita mainkan. Hal ini berarti bahwa manusia adalah penguasa. Kitalah yang harus menentukan sendiri lakon apa yang akan kita mainkan, bukan orang lain. Kita pula yang harus bijak menentukan setiap langkah kita. Setiap kotak dalam papan catur ibarat bidang koordinat yang menjadi penentu langkah kita  menuju kemenangan. Sehingganya setiap melangkah kita harus memikirkan dengan matang arah mana yang kita tuju jangan sampai salah. Jangan sengaja menjadi umpan, tawanan, apalagi skakmat/mati tanpa bisa berbuat apa-apa.

Filosofi Papan Catur menyadarkanku untuk segera bangun dari semua mimpi-mimpi tentang rinduku pada mu. Cukuplah bait-bait puisi menjadi saksi dan tempat mencurahkan sejuta angan dan hasratku yang terpendam, karena kutahu kau tak ingin tahu apalagi membacanya. Cukuplah mimpi ini semalam saja, dan biarkan kusambut  fajar esok dengan semangat baru.

Musik keroncong yang mulai berdendang memaksaku berhenti memainkan denting irama hati. Menyadarkanku bahwa sejak siang hingga malam menggelayut aku asyik menikmati kesendirian ditinggal semua teman-teman  yang sibuk belanja memenuhi isi koper mereka. Lagu keroncong inipun semakin nyaring mengingatkanku ternyata sejak siang perut ini belum terisi sesuap nasi. Segera kuakhiri cumbuanku dengan laptop tersayang dan berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan malam ini.

#Keepfighting#Internasioanal House C18#Recsam2019


1 Comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *