Home » ARTIKEL » UMUM (Page 2)

Category Archives: UMUM

ABU KAMIL SHUJA’ ( Tokoh Aljabar Abad Pertengahan )

Oleh : Sumardyono, M.Pd.

Abu Kamil Shuja’ (Sekitar 850 – 955 M) dari nama panggilannya, al-Misri, memang berasal dari Mesir. Nama lengkapnya Abu Kamil Shuja’ ibnu Aslam ibnu Muhammad ibnu Shuja’ al-Hasib al-Misri. Ia hidup setelah al-Khowarizmi (850 M) dan sebelum Ali bin Ahmad al-Imrani (955-956 M). Matematikawan yang oleh Mehdi Nakosteen, disebut sebagai pakar aljabar terbaik abad ke-10 ini, tidak saja mengembangkan dasar-dasar aljabar al-Khowarizmi tetapi juga lebih menyempurnakannya.

Download file artikel abu kamil shuja

 

Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar

Oleh : Sri Pudjiastuti

Keberadaan perpustakaan sebagai sarana pendukung di suatu lembaga atau pun sekolah selama ini banyak mendapat sorotan, karena dinilai oleh banyak pihak masih perlu mendapat perhatian. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya perkembangan perpustakaan itu sendiri dan rendahnya minat pemustaka untuk berkunjung dan memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Pengertian perpustakaan secara sederhana adalah salah satu bentuk organisasi sumber belajar yang menghimpun berbagai informasi dalam bentuk buku dan bukan buku yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka (misalnya guru, siswa, dan masyarakat) dalam upaya mengembangkan kemampuan dan kecakapannya. Dengan memanfaatkan perpustakaan dapat diperoleh data atau informasi untuk memecahkan berbagai masalah, sumber untuk menentukan kebijakan tertentu, serta berbagai hal yang sangat penting untuk keperluan belajar. Hakikat perpustakaan adalah pusat sumber belajar dan sumber informasi bagi pemakainya.

Tujuan kegiatan perpustakaan adalah untuk menumbuhkan minat baca pemustaka, memperkenalkan teknologi informasi, membiasakan akses informasi secara mandiri serta menumbuhkan bakat dan minat pemustaka. Jika dilihat keterkaitannya dengan proses belajar mengajar di sekolah, perpustakaan sekolah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran.

Dilihat dari perannya, perpustakaan merupakan mitra siswa dalam belajar,  memberikan bimbingan/pendidikan kepada siswa dalam menggunakan perpustakaan dan sumber informasi, menyediakan informasi yang up to date (terbaru), menyiapkan ruang belajar, diskusi, dan penelitian. Intinya, perpustakaan merupakan “Sumber Belajar” yang tersedia dari berbagai sumber belajar yang ada di lingkungan sekolah.

Pengertian sumber belajar sendiri menurut Association for Education Communication Technology (AECT) adalah berbagai sumber baik itu berupa data, orang atau wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar baik yang digunakan secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya.

Perpustakaan mempunyai peran dan andil yang cukup besar dalam meningkatkan kualitas masyarakat pendidikan maupun masyarakat umum. Dengan kata lain perpustakaan berperan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi ada beberapa masalah yang dihadapi dalam pengembangan perpustakaan sebagai sumber belajar, antara lain:

  • Sebagian besar sekolah belum memiliki tenaga pengelola perpustakaan yang tetap
  • Perpustakaan belum difungsikan sebagai penyedia sumber belajar
  • Isi buku-buku wajib dan penunjang belum sesuai kebutuhan belajar
  • Luas ruang, meja, kursi untuk membaca juga belum sebanding dengan jumlah siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan yang ada di sekolah.

Jika ingin dilakukan kajian lebih dalam, sebenarnya peluang untuk lebih memberdayakan perpustakaan telah terbuka. Adanya dasar yang dapat mendukung pengembangan perpustakaan sekolah antara lain:

  1. Adanya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang merupakan dasar pijkakan kita dan memungkinkan semua lembaga pendidikan formal didukung oleh sarana dan prasarana (termasuk perpustakaan).
  2. Adanya Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
  3. UU No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 23 yang menyebutkan bahwa sekolah perlu mengalokasikan anggaran dana sebesar minimal 5% dari APBS untuk pengembangan perpustakaan.
  4. Adanya metode pengajaran yang melibatkan siswa secara aktif dimana siswa dituntut untuk mengembangkan, dan memperdalam sendiri materi yang telah disampaikan oleh guru.

Berbagai upaya harus dilakukan untuk memaksimalkan fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar, diantaranya:

  • Menyediakan bahan pustaka yang menarik dan sesuai kebutuhan pemustaka
  • Meningkatkan pelayanan perpustakaan agar menjadi tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi
  • Menyediakan waktu/jam berkunjung ke perpustakaan dengan memberikan tugas pada siswa sehingga mereka aktif mencari bahan informasi ke perpustakaan.
  • Mengintegrasikan perpustakaan dalam kegiatan belajar mengajar.

Peran guru dan pengelola perpustakaan tidak dapat diabaikan dalam keberhasilan pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar. Peran guru sangat besar karena guru yang paling sering berinteraksi dan memiliki hubungan langsung dengan siswa dalam pembelajaran dan mengarahkan siswa untuk memanfaatkan perpustakaan dalam proses KBM. Demikian juga dengan peran pengelola perpustakaan. Pengelola perpustakaan merupakan manajer informasi dan penanggung jawab program perpustakaan sekolah sebagai salah satu pelaksana visi dan misi sekolah. Dengan bimbingannya warga sekolah akan melek informasi, dapat menghasilkan karya dan kreasi sehingga terbentuk generasi cerdas dan berkualitas.

Dari uraian singkat  tadi dapat dipastikan bahwa dalam kegiatan belajar di lingkungan sekolah perlu didukung oleh sarana yang memadai. Termasuk didalamnya  perpustakaan sekolah yang berfungsi sebagai sumber belajar siswa. Sebagai sumber belajar perpustakaan sekolah mempunyai peran dan fungsi yang sangat penting. Fungsi perpustakaan tersebut akan berjalan dengan baik apabila mendapat dukungan dari pihak-pihak terkait yaitu penentu kebijakan pada tingkat departemen, tingkat daerah, tingkat sekolah (kepala sekolah, guru, dan pengelola perpustakaan) sehingga tercapai hakikat “Perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar”.

Daftar Pustaka

Darmono, 2004.  Manajemen dan tata kerja perpustakaan sekolah. Cetakan ke-2. Jakarta:Gramedia Widiasarana Indonesia

Darmono, 2007. “Pengembangan Perpustakaan Sekolah sebagai Sumber Belajar” dalam  Jurnal  Perpustakaan Sekolah, Tahun 1 – Nomor 1 – April 2007

Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 tahun 2005 tentang  Standar   Nasional Pendidikan.

Indonesia. Undang-undang No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan

Arsidi dkk. Perpustakaan  Sebagai Sumber Belajar. Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Tenaga Perpustakaan Sekolah di Jakarta, 2012.


Psikologi Pertumbuhan model-model kepribadian sehat

 

oleh : rumiati

Fokus utama dari psikologi pertumbuhan adalah mempelajari kodrat manusia dari sisi yang sehat, bukan yang sakit. Tujuannya adalah membuka potensi manusia agar dapat mengaktualisasi diri dan bakat-bakatnya supaya menjadi pribadi yang utuh dan sehat. Berikut ini adalah model-model kepribadian sehat menurut beberapa ahli yang dikutip dari buku Duane Schultz (1991):

  1. Model Allport : Pribadi yang sehat adalah pribadi yang matang, yaitu pribadi yang tidak dikontrol oleh trauma dan konflik masa lalu. Pribadi ini didorong ke depan oleh suatu visi dan visi itu mempersatukan kepribadiaannya serta membawanya melewati tantangan demi tantangan yang terus berubah. Kebahagiaan bukan merupakan tujuan utama. Kebahagiaan hanyalah merupakan hasil sampingan dari proses mencapai tujuan. Pribadi ini akan terus berusaha mencari motif-motif dan tujuan baru begitu tujuan lamanya tercapai. Kriteria kepribadian yang matang adalah: perluasan perasaan diri, hubungan yang hangat dengan orang lain, keamanan emosional, persepsi yang realistik, serta memiliki keterampilan dan kemampuan untuk melaksanakan tugas.
  2. Model Rogers : Menurut Rogers pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu berfungsi sepenuhnya. Mereka mampu mengalami secara mendalam keseluruhan emosi, kebahagiaan atau kesedihan, gembira atau putus asa. Ciri-ciri dari pribadi sehat ini adalah memiliki perasaan yang kuat, dapat memilih bertindak bebas, kreatif dan spontan. Memiliki keberanian untuk menjadi ”ada” yaitu menjadi diri sendiri tanpa bersembunyi dibalik topeng atau berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
  3. Model Fromm: Pribadi yang sehat adalah pribadi yang produktif yaitu pribadi yang dapat menggunakan secara penuh potensi dirinya. Ada empat segi tambahan dari kepribadian sehat yaitu cinta, pikiran, kebahagiaan, dan suara hati yang produktif. Cinta yang produktif adalah cinta yang memperhatikan serta membantu pertumbuhan dan perkembangan orang lain. Pikiran yang produktif adalah pikiran yang berfokus pada gejala-gejala dan mempelajarinya secara keseluruhan, bukan hanya dalam potongan-potongan. Suara hati yang produktif adalah suara hati yang memimpin dan mengatur dirinya sendiri.
  4. Model Maslow: Sejak lahir manusia didorong untuk memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk memiliki dan kebutuhan cinta serta penghargaan. Kebutuhan itu harus dipenuhi sebelum muncul kebutuhan aktualisasi diri. Dan pribadi yang sehat adalah pribadi yang mengaktualisasi diri yaitu pribadi yang dapat menggunakan bakat, kualitas, dan kapasitas dirinya secara penuh. Ada sejumlah sifat orang yang mengaktualisasi diri antara lain: dapat mengamati realitas secara efisien, menerima orang lain dan diri sendiri, spontan, sederhana, wajar, membutuhkan privasi dan independensi serta memiliki perhatian terhadap masalah-masalah di luar diri mereka.  Para pengaktualisai diri memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaan dan memikul tugas tanggungjawab atas pekerjaan itu secara kreatif.
  5. Model Jung: pribadi yang sehat adalah pribadi yang terindividuasi, yaitu pribadi yang menjadi dirinya sendiri. Mereka mampu mengungkapkan dirinya secara utuh.. Ciri-ciri orang serupa itu adalah adanya penerimaan dan toleransi terhadap kodrat manusia, dapat menerima apa yang tidak diketahui dan misterius, serta memiliki kepribadian universal.
  6. Model Frankl: Pribadi yang sehat adalah pribadi yang mengatasi diri, yaitu memberikan diri sepenuhnya pada suatu tujuan atau seseorang dan terus menerus mencari bukan diri kita tetapi arti hidup kita. Dalam bukunya ”man’s search  for meaning” Frank menyatakan bahwa dorongan fundamental yang ada dalam diri manusia adalah kemauan akan arti. Tanpa memperoleh arti dari kehidupan, tidak ada alasan untuk meneruskan hidup. Sedang arti hidup itu bersifat unik dan khas bagi tiap individu. Sifat-sifat pribadi yang mengatasi diri antara lain: memiliki orientasi ke depan, memiliki komitmen terhadap pekerjaan, mampu memberi dan menerima cinta, bebas memilih langkah tindakan mereka sendiri dan bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut.
  7. Model Perls: Pribadi yang sehat adalah pribadi yang berpijak dengan aman pada momen kehidupan sekarang. Mereka dikatakan sebagai orang ‘disini dan sekarang’. Mereka bukan tawanan dari trauma masa lalu atau khayalan masa depan. Ciri-ciri mereka antara lain: Memiliki kesadaran penuh dan penerimaan penuh terhadap siapa dan apa mereka, dapat mengungkapkan perasaan secara terbuka, bersedia memikul tanggungjawab atas kehidupannya sendiri, serta tidak dapat diatur dari luar

Berdasarkan model-model kepribadian sehat menurut ahli-ahli dapat disimpulkan bahwa. pribadi yang sehat adalah pribadi yang tidak pernah berhenti tumbuh. Setiap hari manusia menjalani pengalaman-pengalaman baru dan akibatnya mereka berubah. Orang yang memiliki kesempatan cukup besar mencapai kesehatan psikologis adalah orang-orang yang cukup bebas dan aman dengan dirinya sendiri untuk mengadakan percobaan-percobaan dengan petunjuk berbeda untuk melihat petunjuk mana yang berlaku dalam kehidupan mereka. Model manakah yang paling pas dengan anda?

 

Sumber: Psikologi Pertumbuhan, model-model kepribadian sehat, Duane Schultz, Kanisius:1991

 

Al-Hazen atau al-Haitsam Bapak optik sekaligus matematikawan

oleh : Sumardyono, M.Pd

Al-Haitsam (965 – 1039) dikenal di Barat sebagai al-Hazen atau Avennathan, tokoh optik terkemuka dunia dan pakar fisika. Tetapi  ia juga seorang ahli astronomi, matematikawan, dan seorang dokter. Ketekunan dan kejeniusannya dalam menelaah gejala-gejala alam mengantarkannya menjadi seorang cendekiawan hebat, tidak saja dalam masyarakat muslim pada jamannya bahkan juga di dunia barat.

Download file artikel bapak optik sekaligus matematikawan

Miskonsepsi Materi Geometri Siswa Sekolah Dasar

Oleh : Amini

Miskonsepsi dalam bahasa inggris dikenal dengan misconception. Conception is an understanding or a belief of what something is or what something should be (Oxford Dictionary). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konsepsi adalah pengertian; pendapat (paham). Mis sendiri dapat diartikan sebagai salah atau tidak sesuai. Sehingga miskonsepsi dapat didefinisikan sebagai suatu pemahaman yang salah atau tidak sesuai terhadap konsep tertentu. Atau dengan kata lain dapat dinyatakan sebagai konsepsi yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima oleh para ilmuwan.

Download file artikel miskonsepsi materi geometri

Mengenal Al-khowarizmi Bapak Aljabar

oleh : rumiati

Siapa yang belum pernah mendengar kata Aljabar? Setiap orang yang mengaku lulusan sekolah pasti pernah mendengarnya. Tapi apakah sebenarnya Aljabar itu? Sebagian orang langsung membayangkan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan hitung-hitungan yang rumit. Tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai permainan yang mengasikkan. “Asal tahu aturan-aturannya, aljabar itu asyik kok!”

Di masa Anda sekolah, pasti Anda pernah diminta guru matematika Anda untuk menyelesaikan soal persamaan seperti ini: x +  6 = 12. Tentukan x!

Lalu Anda dan teman-teman Anda menunduk dan mulai mencoret-coret buku. Dan mungkin seperti inilah coretan Anda:

x + 6 = 12

x = 12 – 6

Anda memindah 6, yang merupakan salah satu suku dari persamaan itu dari ruas kiri ke ruas kanan ( ruas kiri dan kanan batasnya adalah tanda sama dengan). Nah, disini berarti Anda telah melakukan suatu’Al jabr’. Al Jabr berarti proses memindahkan suku-suku keseberang tanda sama dengan dalam persamaan untuk menuju proses penyelesaian. Kemudian Anda melanjutkan;

x = 6

Lalu guru Anda pun manggut-manggut, merasa puas karena berarti Anda telah memahami apa yang barusan diterangkan tadi.

Dari manakah sebenarnya asal kata aljabar itu? Jika pertanyaan ini ditujukan kepada anak-anak SMP yang kebetulan gurunya belum pernah menyinggung permasalahan ini, mereka akan menjawab bahwa kata ini tidak mungkin berasal dari bahasa Inggris, Latin, apa lagi bahasa Indonesia. Kata ini kemungkinan berasal dari bahasa Arab. Bahkan ada yang menghubungkan dengan Kitab suci Al Qur’an, mengingat sama-sama berawalan Al.

Kata Aljabar memang berasal dari bahasa Arab. Lebih tepat kata ini diambil dari sebuah buku karya Al Khowarizmi yang berjudul “Al Mukhtazar fi Hizab al’jabr wa al- muqabala”. Buku ini populer di kalangan ilmuwan barat. Tetapi sayangnya tidak populer di kalangan mahasiswa-mahasiswa eksakta kita yang kebanyakan justru mengambil sumber-sumber belajarnya dari kalangan tangan kedua yaitu ilmuwan-ilmuwan barat seperti Leibniz dan Chauchy.

Begitu populernya kata aljabar, tetapi tidak banyak yang tahu siapakah Al Khowarizmi? Jika Anda mengira dia lahir di Arab yaitu Arab Saudi yang kita kenal sekarang, Anda salah. Al Khowarizmi atau nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khowarizmi lahir di  Khiran, Al Khwarizm, sebuah daerah di Uzbekiztan pada tahun 740 Masehi atau tahun 194 Hijriah. Kemudian beliau tinggal di Baghdad, kota yang terkenal dengan dongeng seribu satu malam. Di kota inilah beliau mendapat prestasi ilmiah yang tinggi dan menjadikannya sebagai maestro para cerdik pandai di masa itu. Sehingga akhirnya beliau dipercaya khalifah dalam urusan di Baitul Hikmah, sebuah lembaga khusus untuk para ilmuwan Baghdad. Beliau wafat di kota ini juga pada tahun 850 M atau 266 H.

Nama Al Khowarizmi sendiri kemudian diserap menjadi kata Algoritmi (latin) atau Algorism (Inggris) atau algoritma (Indonesia), sebuah istilah yang pasti sangat akrab di kalangan programmer komputer dan kurang lebih diartikan sebagai langkah-langkah yang sistematis dan teratur dalam menyelesaikan suatu masalah.

Kitab asli karya Al Khowarizmi dalam bahasa Arab, yang secara singkat kita sebut Al Jabr al Muqabala sendiri telah lama hilang. Kita hanya bisa mengetahui karya terjemahannya yaitu “Liber Algebras et Almuqabala” oleh Robert de Chester. Atau yang lebih termahsyur yaitu “ de jebra al et almuqabala” oleh Gerard De Cremona. Hal ini sangat disayangkan mengingat buku inilah sebenarnya yang menjadi pijakan bagi perkembangan aljabar, seperti halnya buku “element” karya Euclid yang menjadi pijakan bagi perkembangan geometri.

Mengingat karyanya ini maka menurut Gandz, Al Khowarizmi patut disebut sebagai Bapak Aljabar. Beliaulah yang mengajarkan aljabar dalam bentuk elementer dan penerapannya, serta memberi pijakan bagi perkembangan aljabar modern. Tetapi dunia Barat terkesan malu-malu untuk  mengakuinya dan malah menyebut Diopanthus, ilmuwan Yunani yang hidup sekitar abad 3 SM sebagai bapak Aljabar.

Kontribusi lain Al Khowarizmi yang terkenal adalah Teorema “Casting’s out 9’s” yang menyatakan bahwa bila suatu bilangan dibagi 9 maka sisanya sama dengan sisa bila jumlah angka penyusunnya juga dibagi 9. Ambillah contoh sebarang bilangan misalnya 4.586.789 dibagi 9 adalah 509.643 sisanya 2. Kemudian angka penyusunnya dijumlah yaitu 4 + 5 + 8 + 6 + 7 + 8 +9 = 47. Lalu 47 dibagi 9 hasilnya 5 ada sisa yang sama dengan sisa bilangan semula yaitu 2. Jika Anda tidak percaya dengan teorema ini, silahkan Anda coba untuk sembarang bilangan yang lain.

Aturan itu dapat digunakan untuk memeriksa kebenaran suatu penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian bilangan asli.

Pustakawan-Guru

 

Pustakawan-Guru

Istilah Teacher-Librarian atau pustakawan-guru di Indonesia sampai saat ini belum popular seperti di negara lain seperti Amerika, Australia dan Singapura. Yang lebih parah, ada yang salah mengartikan pustakawan-guru adalah guru yang ditunjuk menjadi pengelola perpustakaan karena kurangnya jam mengajar. Pustakawan-guru perlu diperkenalkan karena di masa yang akan datang profesi ini menunjang kemajuan mutu pendidikan di Indonesia.

Seperti disampaikan Ketua Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia, Hanna Latuputia, seorang teacher-librarian harus memiliki dua kompetensi yaitu sebagai ”Guru” dan sebagai ”Pustakawan”. Pustakawan harus memahami pedagogik, sehingga pustakawan secara efektif dapat membantu proses KBM di sekolah. Guru harus menguasai keilmuan perpustakaan sehingga selain dapat mengajar juga dapat mengelola perpustakaan.

Selain istilah teacher-librarian, muncul istilah library media specialist, yaitu seorang pengajar yang memiliki latar belakang kepustakaan (Librarianship). Di Amerika seorang teacher-librarian harus memiliki ijazah sarjana muda, sertifikat pendidikan dasar dan menengah serta wajib memiliki sertifikat Negara dalam bidang program (library media). Singkatnya, seorang teacher-librarian harus memiliki kualifikasi pengajar dan kualifikasi pustakawan. Hal ini didasari bahwa seorang teacher-librarian merupakan seorang pendidik sekaligus manager informasi dengan pemahaman menyeluruh atas dua bidang tersebut.

Teacher-librarian memegang peranan kunci dalam tiga aspek, yaitu kunci dalam kurikulum (curriculum leader), sebagai spesialis informasi (information specialist) dan sebagai manager layanan informasi (information services manager) (Suherman, 2009)

Selama ini masih banyak perpustakaan sekolah yang belum efektif karena kurangnya kesadaran para pimpinan sekolah sebagai pengambil kebijakan fungsi perpustakaan. Dampaknya adalah perpustakaan belum apat dimanfaatkan secara optimal dalam proses KBM terutama dalam meningkatkan kompetensi siswa dalam literasi informasi. Padahal literasi informasi ini sangat penting dalam membangun kebiasaan siswa dalam proses pembelajaran seumur hidup (life long education).

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Suherman, 2009.  Perpustakaan sebagai Jantung Sekolah. Bandung: MQS Publishing

————-, 2010. Talk Show Teacher Librarian or Librarian as a teacher. http://ekakusmayadi.wordpress.com/2010/02/07/talk-show-teacher-librarian-or-librarian-as-a-teacher/. Diakses tanggal 5 Juni 2012

Arsidi dkk. Perpustakaan  Sebagai Sumber Belajar. Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Tenaga Perpustakaan Sekolah di Jakarta, 2012.

 

Petunjuk Penggunaan Program Iteman

 

Petunjuk Penggunaan Program Iteman

Oleh: Estina Ekawati

ITEMAN adalah salah satu program analisis butir soal yang dapat digunakan untuk menganalisa hasil tes.

ITEMAN (Item and Test Analysis) merupakan analisis butir empirik model klasik. Anda dapat mendownloadnya di sini.

Setelah didownload kemudian anda extract dan simpan dalam folder tersendiri, misalkan anda beri nama ANALISIS.

download petunjuk penggunaan program iteman

Download File: Program Iteman

Mendidik Siswa Menghargai Pendapat Orang Lain

 

MENDIDIK SISWA MENGHARGAI PENDAPAT ORANG LAIN

ditulis oleh Puji Iryanti

Situasi apa yang terjadi ketika seorang siswa atau sekelompok siswa melakukan presentasi di kelas? Seringkali banyak siswa lain tidak memperhatikan dengan baik apa yang dibicarakan oleh siswa atau kelompok yang sedang berbicara. Situasi ini penulis temukan ketika mendapat kesempatan mengamati peserta Course on Joyful Mathematics Learning SEAMEO QITEP in Mathematics yang praktik mengajar di kelas 2 salah satu SD swasta yang cukup terkenal di Yogyakarta. Karena kebiasaan yang ada, siswa selalu berbicara keras dan tidak bergantian berbicara. Akibatnya ketika siswa diskusi dalam kelompok setiap siswa ingin bicara dan semuanya berteriak. Kelas menjadi gaduh sekali karena semua kelompok berkelakuan sama. Tapi, tunggu dulu. Jangan menyalahkan mereka dulu sebelum mengetahui apakah guru sudah mendidik siswa menghargai pendapat orang lain.

Perhatikan gambar yang diambil dari dua sampel video study 2011 yang dikoordinir oleh World Bank Jakarta berikut ini.

Gambar 1. Presentasi Klasikal Siswa Video 1

Terlihat pada Gambar 1 salah seorang siswa yang sedang menuliskan jawaban diskusi kelompoknya. Pada gambar hanya seorang siswa saja yang memperhatikan siswa yang sedang presentasi tersebut sedangkan guru dan siswa lain sama sekali tidak memperhatikan. Ini artinya bahwa guru dan hampir semua siswa sama sekali tidak menghargai siswa yang sedang melakukan presentasi.

Gambar 2. Presentasi Klasikal Siswa Video 2

Pada Gambar 2 terlihat siswa sedang menuliskan jawaban yang sudah diperolehnya. Hanya guru saja yang memperhatikan siswa tersebut sementara siswa lain asyik bekerja dalam kelompoknya. Mencermati 3 situasi kelas di atas, mengapa terjadi demikian? Tentu peran guru dalam situasi itu sangat besar sehingga menyebabkan para siswa tidak menghargai seorang siswa yang sedang presentasi sekaligus tidak menghargai pendapat orang lain.

Ada budaya kelas yang baik dari beberapa negara tetangga yang dapat ditiru sehubungan dengan menghargai pendapat orang lain. Sejak di sekolah dasar siswa Kamboja dan Vietnam sudah dibiasakan menghargai pendapat orang lain. Ketika guru mengajukan pertanyaan, banyak tangan-tangan kecil yang terangkat menyatakan bahwa siswa-siswa pemilik tangan itu ingin menjawab pertanyaan guru. Tetapi sewaktu guru menunjuk salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut, siswa tersebut langsung berdiri dan menjawab pertanyaan sementara siswa yang lain diam mendengarkan jawaban temannya. Setelah siswa itu selesai menjawab dan guru meminta siswa yang lain menanggapi barulah siswa tersebut memberikan pendapatnya.

Banyak guru yang tidak menyadari bahwa menghargai pendapat orang lain itu dimulai dari situasi di kelas bahkan dapat dimulai sejak dini dari sekolah dasar (SD). Berbicara dan mendengarkan adalah dua hal yang saling berkaitan. Etika berbicara atau berpendapat dan mendengarkan harus diajarkan kepada siswa sejak dini.  Menghargai pendapat orang lain dimulai dari mendengarkan atau memperhatikan atau menganalisa apa yang sedang dijelaskan. Siswa tidak akan menjadi pendengar yang baik jika tidak dibiasakan. Mendengarkan adalah pekerjaan yang jauh lebih berat dibandingkan berbicara. Pendengar yang baik berusaha menangkap ide-ide yang dilontarkan oleh pembicara sehingga pada gilirannya ia dapat menanggapi pembicara tadi. Oleh karena itu bukan berarti bahwa dengan menghargai pendapat orang lain itu siswa hanya menjadi pendengar yang pasif saja, tetapi yang paling penting siswa diminta untuk menangkap ide-ide yang dilontarkan oleh pembicara dan kemudian dapat menanggapinya.

Guru sebagai pengelola kelas harus menerapkan aturan yang dipatuhi oleh kelas sehingga siswa belajar menghargai pendapat siswa lain. Beberapa hal di bawah ini dapat dijadikan alternatif acuan dalam mendidik siswa menghargai pendapat orang lain.

1.      Guru membuat kode tertentu yang sudah disepakati ketika kelas gaduh sehingga ketika kelas melihat/mendengar kode itu mereka langsung diam.

2.      Ketika ada siswa yang presentasi/bicara baik di depan kelas maupun di kelompok siswa yang lain diam mendengarkan atau memperhatikan dan berusaha menangkap atau menganalisis apa yang dibicarakan atau dipresentasikan. Para siswa harus bergantian bicara sehingga siswa yang lain tidak bingung siapa yang harus didengarkan.

3.      Ketika guru atau siswa melakukan presentasi di depan kelas, siswa yang ingin memberikan pendapat mengangkat tangan terlebih dahulu dan setelah dipersilahkan bicara barulah ia bicara dan sebaiknya ia berdiri agar kelas mengetahui siapa yang sedang berbicara.

4.      Ketika seorang siswa sedang presentasi, guru minta siswa/kelompok lain berhenti bekerja, menyesuaikan posisi duduk sehingga menghadap ke presenter dan memperhatikan apa yang sedang dibicarakan. Oleh karena itu sebelum meminta siswa melakukan presentasi guru harus yakin bahwa:

a.       apa yang dipresentasikan memang layak diketahui oleh siswa lain karena berbeda cara menyelesaikan soal/masalah atau karena soal/masalah yang diselesaikan benar-benar berbeda.

b.      hampir semua kelompok/siswa sudah menyelesaikan pekerjaannya sehingga mereka mendengarkan atau mengamati presentasi yang sedang dilakukan.

5.      Guru meminta siswa yang tidak presentasi untuk mengamati dan menganalisis jawaban atau penyelesaian soal/masalah yang sedang dipresentasikan. Ketika tiba waktunya untuk untuk memberikan tanggapan, mereka menanggapi berdasarkan analisis yang dilakukan dan tidak keluar dari konteks yang dibicarakan/dipresentasikan serta dilakukan dengan santun sesuai aturan yang disepakati.

6.      Siswa menyadari perbedaan pendapat adalah hal biasa tertapi perbedaan pendapat itu harus diutarakan dengan santun. Guru mengonfirmasi perbedaan pendapat ini berdasarkan kaidah keilmuan topik yang sedang dibahas.

Apabila beberapa hal di atas dapat diterapkan di kelas maka tidak akan terjadi lagi ketika salah seorang siswa atau kelompok atau guru presentasi di depan kelas siswa yang lain tidak mendengarkan. Selanjutnya setelah aturan-aturan itu menjadi budaya maka siswa akan terbiasa santun berbicara dan menghargai orang lain yang sedang berbicara atau presentasi tidak hanya di kelas saja tetapi dalam forum-forum lain yang lebih besar.

Mengenal SQ Sebagai Salah Satu Dari Ragam Kecerdasan

oleh : rumiati

T : Saya pernah mendengar tentang IQ dan EQ, dan sekarang saya mendengar tentang SQ. Singkatan apakah itu?

J : IQ adalah singkatan dari Intellectual Quotient artinya taraf kecerdasan intelektual, EQ atau lebih tepat disebut EI (Emotional Intelligence) artinya kecerdasan emosi, sedangkan SQ atau lebih tepat disebut SI adalah singkatan dari Spiritual Intelligence artinya kecerdasan ruhaniah.

T :  Bisakah anda menjelaskan apa maksudnya?

J :  IQ adalah kemampuan untuk berpikir, bernalar dan memecahkan masalah menggunakan logika. EI atau lebih populer disebut EQ adalah kemampuan untuk memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi tersebut untuk membimbing pikiran dan tindakan. Sedangkan SI atau SQ adalah kemampuan seseorang untuk memecahkan persoalan makna dan nilai, untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta menilai bahwa jalan hidup yang kita pilih memiliki makna yang lebih baik daripada yang lain.

T : Anda menyebutkan taraf kecerdasan, jadi apakah tiga macam kecerdasan itu dapat diukur ?

J  : Seperti mungkin telah anda ketahui IQ dapat diukur dengan menggunakan alat ukur/tes IQ yang validitasnya cukup tinggi. Cara pengukuran IQ sudah dibakukan dengan angka, tetapi memang belum ada alat ukur yang cukup dapat dipercaya untuk EQ dan SQ. Itulah sebabnya sebutan EQ dan SQ sebenarnya kurang tepat, karena kata Quotient bisa berarti taraf, tetapi kata ini sudah terlanjur populer di masyarakat. Istilah yang lebih tepat adalah EI dan SI. Andaikan mungkin diukur, saya kira alat ukur untuk SQ dan IQ tidak tepat jika berbentuk kuantitatif.

T :  Bagaimana sejarahnya hingga ketiga kecerdasan itu diperkenalkan ?

J  : IQ dikenalkan kira – kira pada awal abad 20 ini. Semula orang mengira IQ inilah sebagai satu-satunya kecerdasan yang menentukan keberhasilan manusia. Sampai kira-kira awal tahun 1990-an , Daniel Goleman menemukan bahwa IQ bukan satu-satunya hal yang mempengaruhi keberhasilan manusia dalam belajar. Orang –orang yang memiliki IQ tinggi ternyata tidak selalu memperoleh keberhasilan seperti yang diinginkan. Ada kualitas-kualitas emosional lain yang penting bagi keberhasilan seperti : empati, pengendalian diri, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan , sikap hormat dan lain-lain. Dan di akhir abad ini, Danah Zohar dan Ian Marshall memperkenalkan kecerdasan lain yang membedakan manusia dengan mesin dan dengan hewan yaitu kecerdasan Spiritual.

T : Anda menyatakan bahwa SQ membedakan manusia dengan mesin dan hewan. Apa maksudnya ?

J :  IQ atau boleh dikatakan sebagai kemampuan logika, tentu dimiliki oleh komputer. Komputer sebagai benda kreasi manusia justru mungkin mengalahkan manusia dalam hal berpikir logis dan taat azas. Sementara hewan juga memiliki kecerdasan emosi dalam tingkat rendah, ketika dia dapat menempatkan dirinya sesuai dengan emosi yang dimilikinya. Sedangkan semua itu tidak cukup untuk menjadi alasan bagi manusia untuk tetap meneruskan hidupnya.

T : Apakah maksudnya SQ yang dimiliki manusia membantu manusia untuk menemukan hakekat dan makna dirinya ?

J :  Ya, benar.Sepanjang jaman manusia selalu berhadapan dengan pertanyaan tentang siapa dirinya, dari mana dia berasal, mengapa dan untuk apa dia hidup. Menurut Victor Frankl dalam Man’s search for meaning, pencarian manusia akan makna merupakan motivasi utamanya dalam hidup . Makna itu unik dan spesifik dan hanya dapat dipenuhi oleh dirinya sendiri. Keberadaan SQ dalam diri manusialah yang membantu manusia untuk memenuhi kebutuhannya akan penemuan makna diri ini.

T : Apa yang terjadi jika manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan dirinya akan makna ini ?

J :  Kehidupan jaman modern yang ditandai dengan banyaknya kemudahan dalam bidang materi justru menyebabkan kehampaan manusia dalam bidang ruhani. Ketika hubungan antarmanusia menjadi renggang, ketika lingkungan semakin rusak dan tercemar, dan manusia hidup dalam ketidakpastian nilai, akhirnya menyebabkan kehampaan dalam diri manusia. Semua ini jika tidak dipedulikan akan mengancam kelangsungan manusia sendiri sebagai spesies pemimpin di muka bumi.  Jadi sebagaimana IQ dan EQ, SQ merupakan salah satu penentu bagi keberhasilan manusia untuk bertahan hidup dan untuk meningkatkan mutu kehidupannya, bahkan SQ dapat dilihat dalam kerangka yang lebih luas sebagai landasan semua aspek yang dimiliki IQ dan EQ. SQ membantu manusia untuk membangun dirinya secara utuh.

T : Anda tadi mengatakan bahwa masyarakat modern yang materialistik justru memiliki tingkat SQ yang rendah. Bisakah anda menjelaskannya lebih jauh dengan contoh yang jelas ?

J :  Baiklah saya ingin mengutip percakapan yang diberikan Danah Zohar dan Ian Marshall tentang nelayan (N)  dan pengusaha (P) dalam bukunya SQ-The Ultimate Intelligence.

P : Ikan anda bagus-bagus. Berapa lama waktu yang anda perlukan untuk menangkapnya

N  :    Hanya sebentar

P : Mengapa anda tidak menghabiskan waktu lebih lama di laut untuk mendapatkankan ikan lebih banyak ?

N  :    Ini sudah cukup untuk biaya hidupku dan keluargaku hari ini

P   :   Tapi untuk apa waktu anda yang selebihnya?

N  :    Saya tidur larut, memancing di laut, bercengkerama dengan istri dan anak-anak saya, berjalan-jalan ke desa dan bermain gitar dengan kawan-kawan saya. Pokoknya hidup saya sibuk, Tuan.

P : Saya seorang MBA lulusan Harvard, menurut saya anda seharusnya menghabiskan waktu lebih banyak di laut agar mendapat ikan lebih banyak. Dengan keuntungan dari situ anda dapat membeli perahu baru, sehingga anda mendapat ikan yang lebih banyak lagi, dan tentu saja keuntungan yang lebih banyak. Lalu anda membeli perahu lagi dan akhirnya anda mungkin akan mempunyai armada nelayan. Sehingga akhirnya anda dapat langsung menjual ikan ke pabrik, membuat perusahaan pengalengan ikan sendiri dan anda tinggal mengontrol produk, pemrosesan dan distribusi. Perusahaan anda akan berkembang pesat.

N   :   Berapa waktu yang diperlukan untuk semua itu ?

P    :   Mungkin 15 sampai 20 tahun

N   :    Lalu setelah itu apa ?

P  :   Anda bisa menjual saham kepada masyarakat dan anda akan mendapat uang berjuta-juta.

N  :    Berjuta-juta? Lalu untuk apa?

P  :  Ya, sekarang anda dapat menghabiskan waktu untuk memancing, untuk bersantai dengan istri dan anak-anak anda, berjalan-jalan ke desa dan bermain gitar dengan teman-teman anda.

Anda melihat bahwa pengusaha tersebut bodoh secara spiritual, sedangkan nelayan tersebut lebih memahami  hal yang paling bermakna dalam hidupnya. Materialisme dapat membodohkan manusia secara spiritual, ketika hal tersebut menjadi satu-satunya tujuan. Tetapi jangan salah sangka,  kebodohan spiritual di jaman ini tidak hanya menimpa orang–orang yang secara materi telah tercukupi, tetapi juga kalangan yang secara materi kekurangan, yaitu mereka yang sukar memperoleh akses terhadap materi tetapi terus memaksakan diri karena pengaruh dan desakan lingkungan. Pada mereka tetap terdapat kehampaan diri yang harus diisi. Disinilah letak peran kecerdasan spiritual. Orang yang mempunyai kecerdasan Spritual tidak hanya sanggup menyerap nilai-nilai yang ada dan cocok dengan dirinya , tetapi juga menciptakan nilai-nilai baru untuk memaknai hidupnya

T : Lalu mungkinkah kecerdasan spiritual itu ditingkatkan dan bagaimana caranya?

J : Ini sebuah berita bagus. Berbeda dengan IQ yang menurut para ahli adalah bawaan sejak lahir, dan hampir tidak mungkin untuk di tingkatkan, SQ mungkin dilatih dan ditingkatkan seperti halnya EQ. Meningkatkan SQ dapat dilakukan dengan belajar mendengarkan suara hati. Menurut Danah Zohar di dalam diri manusia terdapat Godspot atau titik Tuhan. Dari sanalah sumber suara hati berasal. Ada dua hal sederhana yang dapat dilakukan. Pertama berusahalah mendengarkan suara hati. Suara hati tidak mungkin berbohong. Suara hati menuntun kepada hal-hal yang benar. Suara hati bisa disebut fitrah manusia. Lalu  lakukanlah tindakan sesuai dengan suara hati. Yang kedua adalah melakukan refleksi. Berusahalah memandang suatu masalah dari berbagai sudut. Jika itu menyangkut hubungan antar manusia, anda dapat melakukan refleksi dengan diri anda sendiri. Jika anda tidak ingin diperlakukan seperti itu, janganlah melakukan hal yang sama kepada orang lain. Mungkin ini tampak terlalu sederhana, bukankah setiap orang bebeda? Itu memang benar. Tetapi tetap ada nilai-nilai universal seperti cinta, kasih sayang, persaudaraan, persahabatan, tidak mementingkan diri sendiri dan sebagainya. Anda bisa berusaha memprioritaskan tindakan sejalan dengan nilai-nilai tersebut.

Mari kita berusaha berpikir melingkar dengan memperhatikan semua aspek.

Pustaka:

Ary Ginanjar Agustian. Rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual. 2001. Jakarta: Penerbit Arga.

Danah Zohar dan Ian Marshall. SQ, memanfaatkan kecerdasan spiritual dalam berpikir integralistik dan holistik untuk memaknai kehidupan. 2002. Bandung: Pustaka MizaN