Home » UMUM » Yuk, Cegah Hipertensi Sejak Dini

Yuk, Cegah Hipertensi Sejak Dini

Oleh: dr. Wijayatun Handrimastuti

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Seseorang dikatakan terkena hipertensi bila tekanan darah sistolik >140 mmHg dan diastolik >90 mmHg. Pengukuran dilakukan 2 kali dalam waktu yang berbeda dan dilakukan pada saat istirahat dengan posisi duduk atau berbaring. World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah hipertensi di seluruh dunia sekitar 1 milyar dan terus meningkat setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, 2/3 diantaranya berada di negara berkembang. Indonesia berada di urutan ke 5 negara dengan penderita hipertensi terbanyak. 

E:\DOWNLOADS\DSC_0011 (2).JPG

Dok. Tim Publikasi PPPPTK Matematika

Jumlah presentasi populasi yang mengalami penyakit (prevelansi) hipertensi yang terdiagnosis dokter di Indonesia mencapai 25,8%. Yogyakarta menduduki peringkat ke tiga prevalensi hipertensi terbesar di Indonesia, tertinggi Kepulauan Bangka Belitung (30,9%), dan terendah Papua (16,8%). Padahal pada awal penelitian di Bangka Belitung hanya 10% penderita yang mengaku didiagnosa hipertensi dan mendapatkan pengobatan. Hal ini merupakan fenomena yang patut diwaspadai karena berarti hanya 1/3 penderita yang terdiagnosa dan mendapatkan pengobatan, sedangkan yg 2/3 penderita tidak tahu kalau sakit dan tetap tidak mengubah gaya hidup.

Tingkat prevalensi hipertensi meningkat seiring dengan peningkatan usia dan cenderung lebih tinggi pada tingkat pendidikan yang rendah. Saat ini terdapat kecenderungan masyarakat perkotaan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan pedesaan. Hal ini dihubungkan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang berhubungan dengan faktor resiko hipertensi seperti stress, obesitas, kurang olahraga, merokok, alkohol dan makanan yang tinggi kadar lemaknya.

Hipertensi yang tidak mendapatkan penangan yang baik menyebabkan komplikasi seperti stroke, penyakit jantung koroner, diabetes, gagal ginjal dan kebutaan. Stroke (51%) dan Penyakit Jantung Koroner (45%) merupakan penyebab penyakit tertinggi. Menurut data Sample Registration System(SRS) Indonesia tahun 2014 hipertensi dengan komplikasi (5,3%) merupakan penyebab kematian nomor 5 pada semua umur.

Hipertensi merupakan silent killer dimana gejala dapat bervariasi pada masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Hasil penelitian sporadis di 15 kabupaten kota di Indonesia oleh Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan memberikan fenomena 17,7% kematian disebabkan oleh stroke dan 10% oleh Ischaemic Heart Disease, dimana hipertensi merupakan soulmate factor keduanya.

Adapun gejala-gejala yang bisa timbul adalah: 

  1. Sakit kepala/rasa berat di tengkuk.
  2. Vertigo/pusing.
  3. Jantung berdebar-debar, nyeri dada, sesak nafas.
  4. Mudah lelah.
  5. Penglihatan kabur telinga berdenging (tinituts).
  6. Mimisan.
E:\DOWNLOADS\DSC_0005.JPG

Dok. Tim Publikasi PPPPTK Matematika

Faktor resiko hipertensi ada dua jenis yaitu: 

  1. Faktor Resiko yang tidak dapat diubah :
  1. Jenis kelamin.
  2. Umur.

Prevalensi hipertensi meningkat pada pria usia>45 tahun, dan wanita usia>60  tahun.

  1. Keturunan.
  2. Faktor Resiko yang dapat diubah:
  1. Pola makan (banyak mengkonsumsi garam, kolesterol, kafein, dan alkohol).
  2. Kurang berolah raga.
  3. Merokok.
  4. Obesitas.
  5. Stress.

Hipertensi dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 

  1. Berdasarkan Penyebabnya:
  1. Hipertensi Primer/ Esensial (Idiopatik/ unkonwn) – 90%. 
  2. Hipertensi Sekunder/Non Esensial ( diketahui penyebabnya).

Penyebabnya: Penyakit ginjal, tumor, kehamilan, kelainan hormonal, pemakaian obat tertentu (obat pereda demam, pereda nyeri, obat flu dan batuk), pemakaian NAPZA.

  1. Berdasarkan bentuknya:
  1. Hipertensi diastolik.
  2. Hipertensi campuran.
  3. Hipertensi sistolik.
  4. Jenis-Jenis yang lain:

Hipertensi Pulmonal

Suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah arteri paru-paru yang menyebabkan sesak nafas, pusing dan pingsan pada saat melakukan aktivitas.

Hipertensi Pada Kehamilan, ada 4 jenis:

  1. Pre-eklampsia-eklampsia/keracunan kehamilan (hipertensi, edema, proteinuria karena kehamilan).
  2. Hipertensi kronik (sudah ada sejak sebelum hamil).
  3. Pre eklampsia pada hiopertensi kronik.
  4. Hipertensi gestasional /sesaat.

Akibat komplikasi hipertensi, yaitu: 

  1. Pada MATA

Penyempitan pembuluh darah pada mata karena penumpukan kolesterol dapat mengakibatkan retinopati dan pandangan mata kabur.

  1. Pada JANTUNG

Jika terjadi vasokonstriksi yang lama pada jantung dapat melemahkan jantung, sehingga timbul nyeri dada , bahkan kematian mendadak.

  1. Pada GINJAL

Suplai darah vaskuler pada ginjal turun menyebabkan penumpukan produk sampah yang berlebihan dan mengganggu fungsi ginjal.

  1. Pada OTAK

Jika aliran darah pada otak berkurang dan suplai O2 berkurang bisa mengakibatkan pusing. Jika penyempitan pembuluh darah sudah parah mengakibatkan pecahnya pembuluh darah pada otak (stroke).   

E:\DOWNLOADS\DSC_0022.JPG

Dok. Tim Publikasi PPPPTK Matematika 

Berikut hal yang dapat dilakukan untuk mencegah hipertensi, yaitu: 

  1. Pemberian Edukasi tentang Hipertensi.
  2. Modifikasi Gaya Hidup. 
  • Memeriksa tekanan darah secara teratur.
  • Menjaga berat badan ideal.
  • Mengurangi konsumsi garam /natrium ( maksimal 1 sendok teh/hari).

Makanan yang harus dihindari karena kandungan garamnya tinggi :

  • Biscuit, cracker, keripik.
  • Makanan minuman dalam kaleng ( sarden,sosis, kornet, soft drink).
  • Makanan yng diawetkan (dendeng, asinan, ikan asin, telur asin, pindang)
  • Mentega, keju, mayonaise. 
  • Bumbu-bumbu (kecap, saus terasi, tauco).
  • Mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium, kalsium dan tinggi serat.

Misalnya pisang, bayam, bit, yoghurt, susu tanpa lemak, oatmeal, ikan, minyak zaitun.

  • Menghindari makanan berlemak tinggi.
  • Menghindari makanan yang mengandung alkohol ( misal durian, tape).
  • Mengurangi minum kopi (tidak lebih dari 4 cangkir/hari).
  • Jangan merokok.
  • Olah raga secara teratur. Dapat berupa lari, jalan cepat, bersepeda, berenang selama 20-25 menit dengan frekuensi 3-5x/hari atau 2-3 jam/minggu.
  • Hidup secara teratur.
  • Mengurangi stress.
  • Jangan terburu-buru.
  • Tidur cukup 6-8 jam/hari.

dr. Wijayatun Handrimastuti (Penulis adalah dokter umum di PPPPTK Matematika)


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *