Home » ARTIKEL » Mengapa Tidak Menggunakan Pembelajaran Realistik Pada Pembelajaran Penjumlahan Dua Bilangan Bulat?

Mengapa Tidak Menggunakan Pembelajaran Realistik Pada Pembelajaran Penjumlahan Dua Bilangan Bulat?

Oleh : Fadjar Shadiq, M.App.Sc

Arah perubahan strategi pembelajaran di kelas di antaranya ditandai dari fokus mengingat ke arah berpikir; dari model ceramah ke pendekatan lainnya seperti penemuan, eksplorasi, investigasi, dan pemecahan masalah; dari deduktif murni ke arah gabungan induktif dan deduktif. Secara umum dapat dinyatakan bahwa model-model pembelajaran terbaru tersebut akan mendukung model pembelajaran yang ideal untuk abad 21 dan akan mendukungpencapaian 5 tujuan belajar matematika sebagaimana dituntut Lampiran Standar Isi pada Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 (Depdiknas, 2006). Tugas paling utama para guru matematika adalah membimbing para siswa tentang bagaimana belajar yang sesungguhnya serta bagaimana belajar memecahkan masalah sehingga hal-hal tersebut dapat digunakan dan diterapkan di masa depan mereka, yaitu ketika mereka melanjutkan pendidikannya maupun ketika mereka bekerja di tempatnya masing-masing.

Pada masa lalu, dan mungkin juga pada masa kini, sebagian guru matematika memulai proses pembelajaran dengan membahas definisi, lalu membuktikan atau hanya mengumumkan kepada para siswa rumus ataupun prinsip yang berkait dengan topik tersebut, lalu membahas contoh-contoh soal, dan selanjutnya diakhiri dengan meminta para siswanya untuk mengerjakan soal-soal latihan. Dengan pembelajaran seperti itu, proses pembelajaran menjadi proses mengikuti langkah-langkah, aturan-aturan, serta contoh-contoh yang diberikan para guru.

download file artikel


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *