Home » Gambaran Umum » Gerakan Ajarmat

Recent Comments

    Statictics

    Gerakan Ajarmat

    Pendidikan nasional dikembangkan secara terpadu dan serasi, baik antar berbagai jalur, jenis, dan jenjang pendidikan, maupun antara sektor pembangunan lainnya serta antar daerah. Masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.

    Dalam Undang-undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 pada Pasal 16: Jalur, jenjang, dan jenis pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

    Bagian kelima pendidikan non-formal pasal 26

    1. Pendidikan non-formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
    2. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

    Sedangkan pada bagian keenam pendidikan in-formal, pada pasal 27

    • Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

    Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Sekolah hanyalah pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak adalah dalam keluarga. Peralihan bentuk pendidikan jalur luar sekolah ke jalur pendidikan sekolah (formal) memerlukan “kerja sama” anatara orang tua dan sekolah (pendidik), dan inilah konsep penting Tripusat pendiidkan dari Ki Hadjar Dewantara.

    Sikap anak terhadap sekolah terutama akan dipengaruhi oleh sikap orang tuanya. Begitu juga sangat diperlukan kepercayaan orang tua terhadap sekolah (pendidik) yang menggantikan tugasnya selama di ruangan sekolah. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, sementara orang tua seolah tidak mau tahu, bahkan cenderung menimpakan kesalahan kepada sekolah.

    Orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya, yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya. Begitu juga orang tua harus menunjukkan kerjasamanya dalam mengarahkan cara anak belajar di rumah, membantu atau membimbing pekerjaan rumahnya, dan senantiasa terus berusaha memotivasi dan menyemangati anak dalam belajar.

    Muhibin Syah (2006) menyebutkan bahwa pada dasarnya, keberhasilan belajar seorang anak dalam hal ini prestasi belajar ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri anak (internal) dan dari luar diri anak (eksternal). Faktor internal antara lain, faktor jasmani, kecerdasan/intelegensi, kedisiplinan, minat, bakat, motivasi, dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal berasal dari faktor sosial dan faktor non sosial. Faktor sosial mencakup lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Interaksi dan komunikasi antar individu dalam ketiga lingkungan tersebut mempunyai pengaruh terhadap perilaku dan aktivitas belajar anak.

    Jinfa Cai, John C Moyer, & Ning Wang (1999) menyebutkan bahwa siswa dengan dukungan yang lebih dari orang tua dalam pembelajaran matematika menunjukan prestasi belajar dan sikap matematika yang lebih bagus. Penyediaan fasilitas dan pendampingan belajar, menjadi prediktor yang lebih baik dalam capaian prestasi belajarnya. Lebih lanjut disebutkan ada 4 (empat) peran yang bisa dilakukan oleh orang tua yakni: motivator, resource provider, monitor, mathematics content advisor, and mathematics learning counselor.

    Memperhatikan kondisi di atas dan salah satu tugas PPPPTK Matematika adalah memberdayakan para pendidikan dan tenaga kependidikan matematika, maka diperlukan suatu terobosan atau upaya inovatif yang mesti dilakukan. Pemberdayaan pendidik yang dilakukan relatif terbatas pada tataran jalur formal, yaitu guru matematika, kolega matematika di sekolah terkait, ataupun KKG/MGMP pada wilayah/zona terdekat. Pergerakan diseminasi yang demikian nampaknya masih stagnan dalam menjangkau dan meningkatkan capaian hasilnya. Anak atau siswa di rumah masih belum optimal untuk mendapatkan pendampingan dalam belajarnya. Dengan demikian, melalui para alumni pelatihan atau kegiatan PPPPTK Matematika perlu diupayakan untuk ikut menggerakan dan menjadi motor di jalur  non-formal dan in-formal. Dalam tugasnya, seorang alumni sebenarnya  mempunyai ‘dua kaki’. Kaki yang satu, sebagai seorang guru yang mengajar siswa di sekolah dan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan/kegiatan di PPPPTK Matematika, maka pada saat itu kakinya berperan di jalur formal. Namun demikian, sepeluang mereka dari sekolah, mereka akan bertemu dengan anak dan keluarganya, berinteraksi dengan anggota masyarakat di lingkungan sekitar. Pada saat itulah fungsi ‘kaki’ yang kedua, yakni peran di jalur in-fromal dan non-formal dijalankan. Pada konteks dan setting seperti inilah Gerakan AJarMat dibangun, kita berdayakan alumni untuk menjadi Kader Gerakan AJarMat

    Ditinjau dari istilah, “AJarMat” adalah singkatan dari Ayo Belajar Matematika. Dalam pengertian sesungguhnya, AjarMat adalah suatu gerakan yang dipelopori oleh PPPPTK Matematika untuk melakukan kegiatan atau tindakan yang mendorong dan mengajak orang tua atau anggota masyarakat agar ikut serta membangun iklim pendampingan yang asih, asah , dan asuh dalam pembelajaran matematika dengan suasana yang kreatif, inovatif, inspiratif, dan menyenangkan. Sasaran utama dari gerakan ini adalah alumni diklat atau kegiatan PPPPTK Matematika yang difungsikan sebagai “motor” dari gerakan ini. Alumni yang dimaksud akan memandu dan memfasilitasi jalannya Gerakan AjarMat di lingkungan atau tempat yang sudah di tentukan.